Jumat 03 Jul 2026 14:49 WIB

Konsumsi Baja Naik, Indonesia Berpeluang Jadi Hub Industri Regional

Indonesia dinilai kian strategis bagi investasi industri baja.

Direktur Utama Krakatau Steel sekaligus Chairman Indonesian Iron & Steel Industry Association (IISIA), Akbar Djohan, pada agenda Mysteel 2026: 1st Southeast Asia Steel Industry Summit” di Jakarta, Kamis (2/7/2026).
Foto: Istimewa
Direktur Utama Krakatau Steel sekaligus Chairman Indonesian Iron & Steel Industry Association (IISIA), Akbar Djohan, pada agenda Mysteel 2026: 1st Southeast Asia Steel Industry Summit” di Jakarta, Kamis (2/7/2026).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Indonesia dinilai memiliki peluang menjadi pusat investasi sekaligus hub pertumbuhan industri baja di Asia Tenggara. Prospek tersebut didukung pertumbuhan konsumsi baja domestik, meningkatnya investasi sektor hilir, serta posisi Indonesia sebagai ekonomi terbesar di kawasan ASEAN.

Chairman Indonesian Iron & Steel Industry Association (IISIA) yang juga Direktur Utama PT Krakatau Steel (Persero) Tbk Akbar Djohan mengatakan, Indonesia semakin strategis sebagai mitra pengembangan industri baja di kawasan.

Baca Juga

“Indonesia semakin memperkuat posisinya sebagai tujuan investasi jangka panjang dan mitra strategis bagi pengembangan industri baja di kawasan,” kata Akbar saat menyampaikan keynote speech dalam Mysteel 2026: 1st Southeast Asia Steel Industry Summit di Jakarta, Kamis (2/7/2026).

Akbar mengatakan, Asia Tenggara menjadi salah satu kawasan dengan prospek pertumbuhan industri baja yang menjanjikan. Menurut dia, peningkatan konsumsi baja nasional dan membaiknya kinerja ekspor mencerminkan daya saing industri baja Indonesia yang terus menguat.

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, perubahan geopolitik, dan percepatan transisi menuju industri rendah karbon, Akbar menilai kolaborasi menjadi faktor penting untuk menjaga daya saing industri baja.

“Tidak ada satu negara, satu perusahaan, maupun satu organisasi pun yang dapat menghadapi transformasi ini sendirian. Masa depan industri baja akan sangat ditentukan oleh seberapa baik kita berbagi pengetahuan, mendorong inovasi, memperkuat kemitraan, serta membangun kepercayaan bersama,” ujar Akbar.

Akbar menambahkan, industri baja juga memerlukan iklim usaha yang sehat serta percepatan transisi menuju green steel melalui kolaborasi antara pemerintah, pelaku industri, lembaga keuangan, penyedia teknologi, dan sektor energi.

Menurut Akbar, forum internasional tersebut diharapkan dapat membuka peluang kemitraan dan investasi baru yang mendukung penguatan daya saing industri baja nasional sekaligus mempercepat agenda hilirisasi industri di Indonesia.

Berita Lainnya

Rekomendasi