REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Badan Pusat Statistik (BPS) merilis tingkat inflasi pada Juni 2026 mencapai 3,34 persen secara tahunan/year on year (yoy). Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 3,08 persen (yoy) dan mendekati batas atas yang ditargetkan pemerintah di kisaran 2,5 persen plus minus 1 persen.
“Inflasi pada Juni 2026, secara bulanan atau month to month (mtm) mencapai sebesar 0,04 persen. Secara tahunan atau yoy terjadi inflasi sebesar 3,34 persen, dan secara tahun kalender atau year to date(ytd) terjadi inflasi sebesar 1,79 persen,” kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono dalam konferensi pers di Kantor BPS, Jakarta, Rabu (1/7/2026).
Ateng menjelaskan, kelompok penyumbang inflasi bulanan terbesar terjadi pada kelompok transportasi. Inflasi kelompok transportasi pada Juni 2026 mencapai sebesar 2,29 persen dengan andil inflasi sebesar 0,28 persen.
“Tiga komoditas yang dominan mendorong inflasi kelompok transportasi, yaitu pertama, bensin dengan andil inflasi 0,21 persen, kedua, tarif angkutan udara dengan andil inflasi sebesar 0,05 persen, ketiga, pelumnas atau oli mesin dengan andil inflasi sebesar 0,01 persen,” ungkapnya.
Kemudian, kelompok makanan, minuman, dan tembakau tercatat mengalami inflasi sebesar 0,20 persen pada Juni 2026. Andil inflasi pada kelompok ini adalah sebesar 0,06 persen.
“Komoditas pada kelompok ini yang memberi andil inflasi terutama bawang merah sebesar 0,04 persen, bawang putih dengan andil inflasi 0,03 persen, dan beras dengan andil terhadap inflasi sebesar 0,02 persen,” terangnya. Eva Rianti