Kamis 18 Jun 2026 15:54 WIB

Perang di Timur Tengah Mereda, BI Tetap Proyeksikan Ekonomi Global Tumbuh Rendah 3 Persen

Inflasi global dan risiko geopolitik masih menjadi tantangan utama.

Rep: Eva Rianti/ Red: Ahmad Fikri Noor
Tangkapan layar Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo.
Foto: Republika/Dian Fath Risalah
Tangkapan layar Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bank Indonesia (BI) tidak mengubah proyeksi pertumbuhan ekonomi global yang rendah di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitik. BI memprediksi pertumbuhan ekonomi global mencapai 3 persen, meskipun perang di Timur Tengah mulai mereda.

“Pertumbuhan ekonomi dunia tahun 2026 diperkirakan tetap rendah sebesar 3,0 persen dan diikuti naiknya tekanan inflasi menjadi sekitar 4,4 persen,” ujar Gubernur BI Perry Warjiyo dalam konferensi pers Rapat Dewan Gubernur (RDG) Juni 2026 yang digelar secara virtual, Kamis (18/6/2026).

Baca Juga

Perry menuturkan, ketidakpastian global akibat perang di Timur Tengah tetap tinggi meskipun sedikit mereda setelah dilakukannya interim deal antara Amerika Serikat (AS) dan Iran pada 14 Juni 2026.

“Perang yang telah berlangsung di Timur Tengah sejak akhir Februari 2026 telah menimbulkan gangguan produksi, distribusi, dan rantai pasok perdagangan antarnegara serta menurunkan prospek perekonomian global,” jelasnya.

Ia mengatakan, sejumlah bank sentral mulai menaikkan suku bunga kebijakannya untuk merespons kenaikan inflasi yang diprediksi menjadi sekitar 4,4 persen pada 2026. Suku bunga kebijakan moneter AS, Fed Funds Rate, saat ini dipertahankan pada level 3,75 persen dan ke depan terdapat kemungkinan akan naik seiring prospek inflasi AS yang lebih tinggi.

Imbal hasil (yield) US Treasury tetap tinggi, mencapai 4,49 persen (tenor 10 tahun) dan 4,18 persen (tenor 2 tahun) pada 17 Juni 2026, didorong oleh defisit fiskal yang membesar. Kemudian, indeks dolar AS terhadap negara maju (DXY) dan negara berkembang (ADXY) tetap kuat. Akibatnya, preferensi penempatan investor global ke negara emerging markets (EMs) belum kuat dan beralih ke aset aman (safe haven assets) di negara maju.

“Ke depan, perkembangan negosiasi antara AS dan Iran terkait kesepakatan penyelesaian konflik di Timur Tengah diperkirakan masih dinamis sehingga memerlukan kewaspadaan serta penguatan respons dan sinergi kebijakan fiskal dan moneter guna memperkuat ketahanan eksternal, menjaga stabilitas, dan mendorong pertumbuhan ekonomi domestik,” terangnya.

photo
Karyawan menghitung uang rupiah di Kantor Valuta Inti Prima, Jakarta, Jumat (5/6/2026). - (Republika/Thoudy Badai)

 

Berita Lainnya
Terpopuler

Rekomendasi