Rabu 17 Jun 2026 17:15 WIB

MSCI Bakal Rilis Pengumuman Terbaru Jumat Ini, Ini Prediksi Ekonom...

Pasar modal Indonesia diklaim sudah melakukan perbaikan fundamental.

OJK bersama SRO dan Danantara menyampaikan hasil pertemuan dengan MSCI di Gedung BEI, Jakarta, Senin (2/2/2026).
Foto: Republika/Eva Rianti
OJK bersama SRO dan Danantara menyampaikan hasil pertemuan dengan MSCI di Gedung BEI, Jakarta, Senin (2/2/2026).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Lembaga penyedia indeks saham global (MSCI) dijadwalkan merilis informasi terbaru terkait pasar modal internasional, termasuk Indonesia, pada 18 Juni dan 23 Juni waktu setempat, atau sehari kemudian waktu Indonesia. Pengumuman itu bertajuk Global Market Accessibility Review dan Annual Market Classification Review.

Pengumuman ini tentu saja ditunggu oleh pelaku pasar bursa Indonesia menyusul hasil kajian MSCI sebelumnya pada 13 Mei kemarin yang mengubah postur bursa nya untuk Indonesia. Apalagi dalam sebulan terakhir bursa Indonesia terus didera efek negatif, dan indeks merosot sampai ke level 5.600-an basis poin.

Apakah pengumuman MSCI kali ini bakal menambah sentimen positif bagi bursa Indonesia? Ini yang tentu saja ditunggu oleh investor. Tim riset UOB Kay Hian Indonesia, seperti dikutip dari Dow Jones News Wire, memperkirakan bahwa bursa efek Indonesia tetap masuk dalam status pasar berkembang (emerging market).

Tetap ada peluang bursa saham Indonesia turun kelas ke level pasar frontier, karena ada sejumlah permasalah mendasar terkait kemudahan berinvestasi dan investor di Indonesia. Namun menurut ekonom UOB Kay Hian, peluang ini kecil mengingat perbaikan yang sudah dilakukan otoritas bursa Indonesia dalam beberapa bulan terakhir.

Pada Mei (13/5/2026) pagi WIB, MSCI mengumumkan sejumlah perombakan dalam konstituen MSCI Global Standard Indexes. Untuk pasar modal Indonesia, tidak ada saham yang ditambahkan dalam jajaran indeks tersebut. Sementara itu, terdapat enam emiten yang terlempar dari MSCI Global Standard Indexes.

Menanggapi keputusan MSCI itu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meyakini reformasi integritas pasar modal Indonesia akan membawa keuntungan jangka panjang (long term gain), meski berpotensi memicu perubahan komposisi saham dalam indeks MSCI pada hasil rebalancing Mei 2026.

“Dengan perbaikan, reformasi integritas yang kita lakukan, pasti ada dampaknya. Dan kalaupun ada penyesuaian jangka pendek, kita melihat ini sebagai short term pain, tapi Insya Allah long term gain,” kata Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi saat dijumpai media di BEI, Jakarta, Senin.

Friderica atau akrab disapa Kiki menilai, potensi perubahan komposisi saham Indonesia dalam indeks MSCI merupakan konsekuensi dari upaya pembenahan fundamental pasar modal, termasuk penguatan keterbukaan informasi, integritas pasar, serta penegakan hukum.

“Kan mereka (MSCI) sudah bilang freeze kan, jadi tidak ada saham baru yang masuk (ke indeks MSCI), tapi yang lama mungkin akan keluar. Tapi, ya, kita lihat semoga ini bisa kita antisipasi dengan baik,” kata dia.

Ia pun meminta pelaku pasar tidak bereaksi berlebihan terhadap hasil rebalancing MSCI. Menurutnya, potensi penyesuaian indeks akibat reformasi pasar modal merupakan konsekuensi jangka pendek yang perlu dilihat sebagai bagian dari penguatan fundamental pasar keuangan Indonesia.

“Jadi jangan orang terus jadi dibikin panik dan lain-lain, enggak. Ini memang konsekuensi dari perbaikan yang kita lakukan,” kata Kiki.

Mengenai potensi penurunan status Indonesia dari emerging market, Kiki mengatakan bahwa keputusan tersebut baru akan ditinjau MSCI pada Juni 2026.

Berbagai perbaikan yang dilakukan regulator diharapkan menjadi pertimbangan MSCI untuk mempertahankan Indonesia dalam kelompok emerging market.

Menurutnya, Indonesia memiliki kualitas keterbukaan informasi dan granularitas data yang baik, termasuk dalam aspek integritas pasar yang selama ini menjadi perhatian investor global.

sumber : Rilis
Berita Lainnya

Rekomendasi