REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kondisi nilai tukar rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mulai berangsur pulih. Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad menilai penguatan rupiah dan IHSG menunjukkan kepercayaan pasar terhadap pemerintah semakin meningkat.
Mengutip Bloomberg, rupiah telah meninggalkan level Rp 18.000 per dolar AS. Pada perdagangan Kamis (11/6/2026) sekitar pukul 11.19 WIB, rupiah menguat 28 poin atau 0,16 persen ke posisi Rp 17.972 per dolar AS.
Pada waktu yang sama, mengutip IDX Mobile, posisi IHSG masih berada di bawah level 6.000. Namun, indeks bergerak menguat dan tercatat berada di level 5.850.
"Saya pikir kepercayaan terhadap pemerintah semakin kuat sehingga ini juga berpengaruh terhadap pasar dan penguatan nilai tukar rupiah," kata Dasco kepada wartawan di Kompleks DPR RI, Jakarta, Kamis (11/6/2026).
Ia mengatakan pemerintah akan terus menjalankan berbagai program yang sedang digulirkan di tengah membaiknya kepercayaan pasar. Dasco juga mengungkapkan pemerintah akan menyiapkan sejumlah langkah strategis lanjutan untuk semakin memperkuat kepercayaan pasar.
"Saya juga mendapatkan informasi dari pihak pemerintah bahwa dalam pekan ini dan ke depan ada strategi-strategi khusus yang dilakukan pemerintah, yang menurut saya akan membuat nilai tukar rupiah semakin menguat," ujarnya.
Karena itu, Dasco mengimbau masyarakat tidak terus mengoleksi dolar AS dengan harapan memperoleh keuntungan dari pelemahan rupiah. Menurut dia, nilai tukar rupiah berpotensi kembali menguat.
"Mungkin bagi teman-teman yang menyimpan dolar karena berharap ada keuntungan lebih, sebaiknya dolarnya dilepas. Kalau pekan depan nilai rupiah menguat, tentu akan disayangkan jika masih menyimpan dolar. Itu imbauan saya," katanya.
Buyback Saham
Dasco juga menanggapi kebijakan pembelian kembali saham (buyback) tanpa melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) di tengah gejolak pasar. Menurut dia, kebijakan tersebut merupakan salah satu langkah strategis yang perlu dilakukan dalam menghadapi kondisi pasar yang volatil. Ia menilai fundamental emiten, baik Badan Usaha Milik Negara (BUMN) maupun swasta, masih kuat.
"Sebenarnya BUMN dan perusahaan swasta yang memiliki proyek-proyek strategis fundamentalnya kuat. Ketika harga saham sedang turun, langkah buyback yang dilakukan BUMN, Himbara, maupun lembaga investasi menjadi sangat strategis karena pasar melihat adanya peluang pada kondisi tersebut," ujar Dasco.