Jumat 22 May 2026 18:59 WIB

Tak Khawatir Ancaman Krisis, Purbaya: Kalau 1998 Itu Rupiah Melemah dari Rp 2.000 ke Rp 17 Ribu

Purbaya menilai pelemahan rupiah dalam beberapa waktu terakhir lebih karena sentimen.

Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa di Base Ops Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Senin (18/5/2026).
Foto: Republika/Erik Purnama Putra
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa di Base Ops Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Senin (18/5/2026).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan pemerintah tidak memiliki kekhawatiran akan terulangnya krisis ekonomi di Indonesia. Pernyataan itu disampaikan Purbaya usai menghadiri rapat terbatas di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Jumat.

Ia menyebutkan kondisi fundamental ekonomi Indonesia saat ini berada dalam kondisi yang sangat baik. Kondisi sekarang sangat berbeda dibandingkan masa krisis 1998 ketika nilai tukar rupiah mengalami pelemahan drastis hingga berkali-kali lipat.

Baca Juga

"Tidak (kekhawatiran). Fundamental kita amat baik. Kalau dibandingkan 1998 kan waktu itu dari Rp2.000 melemah ke sekian, Rp17 ribu kan sekian kali lipat. Kalau sekarang kan (depresiasi) 4-5 persen kan sebetulnya jauh (dari 1998)," ujar Purbaya.

Ia mengatakan tekanan terhadap nilai tukar rupiah belakangan lebih dipengaruhi oleh persepsi pasar dibandingkan kondisi fundamental ekonomi nasional.

Menurut dia, Indonesia saat ini menghadapi berbagai tekanan eksternal secara bertubi-tubi mulai dari penilaian Morgan Stanley Capital International (MSCI), lembaga pemeringkat, hingga pergerakan nilai tukar.

"Kalau kita lihat sekarang kan serangan bertubi-tubi ke kita. MSCI, habis itu lembaga pemeringkat, habis itu pergerakan nilai tukar. Tapi kalau dari fundamental sih nggak ada masalah. Jadi, kita akan memperbaiki cara mungkin, kita mensosialisasikan keberhasilan kita ke publik," katanya.

 
 
 
Lihat postingan ini di Instagram
 
 
 

Sebuah kiriman dibagikan oleh Republika Online (@republikaonline)

 

sumber : Antara
Berita Lainnya

Rekomendasi