Jumat 22 May 2026 14:40 WIB

Kurangi Ketergantungan pada Dolar, BI Catat LCT Meningkat 300 Persen pada Januari-April 2026

Mayoritas pengguna LCT adalah China dengan kontribusi 89 persen.

Rep: Eva Rianti/ Red: Lida Puspaningtyas
Direktur Departemen Kebijakan Makroprudensial Bank Indonesia (BI) Dhaha P. Kuantan (paling kanan) dan Direktur Departemen Pendalaman Pasar Keuangan BI Ruth A. Cussoy Intama (tengah) dalam acara Pelatihan Wartawan BI bertajuk
Foto: Republika/Eva Rianti
Direktur Departemen Kebijakan Makroprudensial Bank Indonesia (BI) Dhaha P. Kuantan (paling kanan) dan Direktur Departemen Pendalaman Pasar Keuangan BI Ruth A. Cussoy Intama (tengah) dalam acara Pelatihan Wartawan BI bertajuk

REPUBLIKA.CO.ID, MAKASSAR – Bank Indonesia (BI) terus melakukan penguatan Local Currency Transaction (LCT) sebagai salah satu langkah mengurangi ketergantungan pada dolar AS, di tengah kondisi tingginya ketidakpastian ekonomi global. BI mencatatkan, transaksi LCT mengalami peningkatan yang signifikan pada empat bulan pertama tahun 2026.

“Sampai dengan April 2026, transaksi LCT telah mencapai 22,61 miliar dolar AS, meningkat sebesar 309 persen (yoy) dari 7,33 miliar dolar AS pada Januari-April 2025,” ujar Direktur Departemen Pendalaman Pasar Keuangan BI Ruth A. Cussoy Intama dalam acara Pelatihan Wartawan BI bertajuk ‘Penguatan Kebijakan Valas Dan Intermediasi Untuk Stabilitas Rupiah Dan Pertumbuhan Kredit’ di Makassar, Sulawesi Selatan, Jumat (22/5/2026).

Baca Juga

Negara-negara mitra utama Indonesia dalam implementasi LCT adalah China, Jepang, dan Malaysia. Masing-masing kontribusinya yakni 89 persen (China terbesar), 6 persen, dan 3 persen.

BI juga mencatatkan, jumlah pelaku LCT terus meningkat mencapai 5.265 pelaku per bulan pada 2026. Hal itu menunjukkan dampak positif LCT secara nyata kepada pelaku usaha. Tercatat terjadi tren peningkatan dari tahun ke tahun. Pada 2021 angkanya 497 pelaku per bulan, 2022 menjadi 1.741 pelaku per bulan, 2023 (2.602 pelaku per bulan), dan 5.020 pelaku per bulan, yang terus melonjak pada sepanjang 2025 sebanyak 9.720 pelaku per bulan.

Ruth menuturkan, kenaikan volume transaksi LCT serta peningkatan jumlah pelaku LCT mencerminkan semakin luasnya diversifikasi penggunaan mata uang dalam transaksi ekonomi dan keuangan internasional. Langkah tersebut juga bertujuan mengurangi dampak gejolak global, terutama di tengah tren penguatan dolar AS terhadap transaksi perdagangan dan keuangan antarnegara.

“Bukan berarti kita menghindari dolar AS, karena kita tahu transaksi global masih dominan menggunakan dolar AS. Tetapi untuk negara-negara yang memang memiliki volume transaksi besar dan bisa langsung menggunakan mata uang domestik, kenapa harus lewat dolar dulu?” tuturnya.

Bank Sentral memastikan bakal terus melakukan upaya penguatan LCT. Diharapkan transaksi LCT bisa terus meningkat, sehingga penggunaan dolar AS bisa diminimalisasi dan berdampak positif bagi rupiah.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement