Jumat 15 May 2026 18:12 WIB

Permintaan EV Melambat, Honda Pilih Gas Hybrid Terlebih Dulu

Honda memperkenalkan dua purwarupa terbaru, Honda Hybrid Sedan dan Acura Hybrid SUV.

Honda Hybrid Sedan Prototype dan Acura Hybrid SUV Prototype.
Foto: Dok Honda
Honda Hybrid Sedan Prototype dan Acura Hybrid SUV Prototype.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Produsen otomotif Jepang, Honda Motor Co., mulai mengubah arah strategi elektrifikasinya di tengah melambatnya permintaan kendaraan listrik berbasis baterai atau battery electric vehicle (BEV), khususnya di pasar Amerika Utara. Alih-alih agresif mengejar mobil listrik penuh, Honda kini memilih memperkuat pengembangan teknologi hybrid sebagai jembatan menuju era elektrifikasi penuh.

Perubahan arah itu ditegaskan langsung dalam pemaparan strategi global perusahaan yang disampaikan Presiden dan CEO Global Honda, Toshihiro Mibe, di Tokyo, Jepang, pada Rabu (14/5/2026).

Baca Juga

Dalam kesempatan tersebut, Honda memperkenalkan dua purwarupa terbaru, yakni Honda Hybrid Sedan Prototype dan Acura Hybrid SUV Prototype. Kedua model itu menjadi penanda bahwa teknologi hybrid kini menjadi fokus utama Honda untuk beberapa tahun ke depan.

Honda menyebut generasi baru kendaraan hybrid itu dibangun di atas sistem elektrifikasi yang sepenuhnya baru, mulai dari platform, sistem penggerak, hingga teknologi electric all-wheel drive (AWD). Generasi terbaru tersebut ditargetkan mulai dipasarkan secara bertahap pada 2027 di berbagai pasar utama dunia.

Perusahaan menargetkan menghadirkan 15 model baru berbasis teknologi hybrid generasi terbaru hingga akhir tahun fiskal 2030. Honda mengklaim efisiensi energi kendaraan tersebut meningkat sekitar 10 persen dibanding generasi sebelumnya, tanpa mengorbankan karakter berkendara yang menjadi ciri khas merek itu.

Langkah Honda memperkuat hybrid sekaligus menunjukkan penyesuaian strategi di tengah perlambatan pasar kendaraan listrik murni. Sebelumnya, Honda diketahui cukup agresif mendorong pengembangan BEV, termasuk rencana investasi besar di Amerika Utara.

Namun, Honda kini menangguhkan rencana pembangunan pabrik kendaraan listrik dan baterai di Kanada yang sebelumnya bernilai sekitar 11 miliar dolar AS atau setara Rp191 triliun. Penundaan dilakukan karena permintaan kendaraan listrik di Amerika Serikat dinilai belum tumbuh sesuai harapan.

Tidak hanya itu, Honda juga membatalkan produksi tiga model kendaraan listrik baru untuk pasar Amerika Utara. Perusahaan sebelumnya bahkan telah memutuskan menunda dimulainya produksi kendaraan listrik di Kanada dari target awal 2028 menjadi sekitar dua tahun lebih lambat.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement