Rabu 13 May 2026 18:11 WIB

Rupiah Menguat ke Rp 17.476 per Dolar AS di Tengah Tekanan Global dan Geopolitik

Pasar menilai langkah BI masih mampu menopang stabilitas nilai tukar rupiah.

Karyawan menghitung uang pecahan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing di Jakarta. (ilustrasi)
Foto: Republika/Prayogi
Karyawan menghitung uang pecahan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing di Jakarta. (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Nilai tukar (kurs) rupiah pada penutupan perdagangan hari ini menguat menjadi Rp 17.476 per dolar AS dari sebelumnya Rp 17.529 per dolar AS. Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) Muhammad Amru Syifa menilai penguatan rupiah disebabkan aksi ambil untung terhadap dolar AS setelah sebelumnya mengalami penguatan cukup tajam.

“Penguatan rupiah terjadi seiring aksi ambil untung (profit taking) terhadap dolar AS setelah sebelumnya mengalami penguatan cukup tajam pasca rilis data inflasi Amerika Serikat yang melampaui ekspektasi pasar,” katanya di Jakarta, Rabu (13/5/2026).

Baca Juga

Tercatat, tingkat inflasi tahunan AS mencapai level tertinggi pada April 2026 sejak Mei 2023, yakni 3,8 persen, sebagaimana dilaporkan Anadolu. Ekspektasi pasar berada di angka 3,7 persen untuk April, sementara angka Maret 2026 berada di posisi 3,3 persen.

Investor juga disebut cenderung bersikap hati-hati sambil menunggu rilis data inflasi produsen AS (Producer Price Index/PPI) serta perkembangan pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping yang dapat memengaruhi arah pergerakan pasar global.

“Di tengah tingginya tensi geopolitik Timur Tengah, sebagian pelaku pasar mulai melakukan reposisi aset sehingga tekanan terhadap mata uang emerging market sedikit berkurang,” ungkap Amru.

Meninjau dari dalam negeri, rupiah memperoleh dukungan dari optimisme pasar terhadap langkah Bank Indonesia (BI) yang diperkirakan tetap aktif menjaga stabilitas nilai tukar melalui intervensi di pasar valas dan obligasi.

Selain itu, lanjut dia, muncul spekulasi bahwa BI berpotensi melakukan penyesuaian suku bunga untuk menjaga daya tarik aset domestik serta meredam tekanan arus keluar modal asing. “Sentimen positif lainnya berasal dari upaya pemerintah dalam memperkuat stabilitas pasar keuangan domestik, termasuk menjaga likuiditas dan stabilisasi pasar surat utang. Meski demikian, pergerakan rupiah ke depan masih diperkirakan fluktuatif karena pasar tetap mencermati arah kebijakan The Fed, arus modal asing, dan perkembangan risiko geopolitik global,” ungkap dia.

Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak menguat ke level Rp 17.496 per dolar AS dari sebelumnya Rp 17.514 per dolar AS.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement