Selasa 12 May 2026 11:43 WIB

Saudi Aramco: Krisis Minyak Global Bisa Berlangsung Hingga 2027 Jika Selat Hormuz Masih Ditutup

Gangguan pasokan minyak disebut dapat menghilangkan 100 juta barel per pekan.

Logo perusahaan minyak Saudi Aramco.
Foto: ngoilgasmena.com
Logo perusahaan minyak Saudi Aramco.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Pasar minyak global diperkirakan tidak akan kembali normal hingga tahun depan kecuali lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz kembali beroperasi dalam waktu satu bulan. Hal itu disampaikan perusahaan energi terbesar dunia milik pemerintah Arab Saudi, Saudi Aramco.

“Semakin lama gangguan pasokan berlanjut, bahkan hanya beberapa pekan tambahan, maka akan dibutuhkan waktu yang jauh lebih lama bagi pasar minyak untuk kembali seimbang dan stabil,” kata CEO Saudi Aramco Amin Nasser dalam konferensi video yang membahas hasil kuartal pertama Saudi Aramco.

Baca Juga

Ia menambahkan, krisis ini dapat berlangsung hingga 2027 jika kebuntuan yang terjadi di Selat Hormuz terus berlanjut hingga pertengahan Juni.

Pasar yang telah kehilangan satu miliar barel minyak akibat terganggunya produksi atau transportasi akan terus kehilangan sekitar 100 juta barel minyak setiap pekan selama selat itu tetap ditutup, ujarnya.

Nasser juga mengingatkan bahwa sebelumnya sekitar 70 kapal per hari melintasi Selat Hormuz.

Serangan terhadap negara-negara penghasil minyak di Teluk Persia serta penutupan efektif selat tersebut oleh Iran—jalur yang dilalui seperlima pasokan minyak dan gas dunia—telah berdampak negatif terhadap aktivitas produksi maupun ekspor sektor migas.

Sebelum konflik pecah pada 28 Februari, sekitar 20 juta barel minyak per hari memasuki pasar melalui jalur perairan ini.

 

 

 

sumber : ANTARA
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement