Kamis 07 May 2026 19:45 WIB

Mentan Persilakan Mahasiswa Cek Langsung Gudang Beras Pemerintah Buktikan Stok 5,2 Juta Ton

Mentan bebaskan mahasiswa bertanya kepada gudang-gudang beras pemerintah.

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengajak mahasiswa, guru besar, dan pakar pertanian di Jawa Timur mengecek gudang Bulog di Sidoarjo, Ahad (19/4/2026).
Foto: Kementan
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengajak mahasiswa, guru besar, dan pakar pertanian di Jawa Timur mengecek gudang Bulog di Sidoarjo, Ahad (19/4/2026).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mempersilakan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi memeriksa langsung kondisi gudang beras pemerintah guna memastikan kebenaran stok nasional yang mencapai sekitar 5,2 juta ton. Ia menyatakan seluruh gudang penyimpanan beras di Indonesia terbuka bagi mahasiswa untuk melakukan pengecekan langsung sebagai bentuk transparansi pemerintah terhadap pengelolaan cadangan pangan nasional.

"BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) seluruh Indonesia, kami bebaskan bertanya kepada gudang-gudang karena gudang kita sudah full, itu stok beras kita tertinggi selama (Indonesia) merdeka, itu 5,2 juta ton," kata Mentan dalam pernyataan di Jakarta, Kamis (7/5/2026).

Baca Juga

Menurutnya, jumlah stok beras saat ini menjadi yang tertinggi sejak Indonesia merdeka karena sebelumnya cadangan pemerintah hanya berada pada kisaran sekitar 2,6 juta ton. "Stok beras (saat ini) itu 5,2 juta ton, dulu hanya 2,6 juta ton," ujarnya.

Amran menjelaskan peningkatan stok tersebut terjadi meski kapasitas gudang nasional sebelumnya hanya mampu menampung sekitar 3 juta ton, sehingga kondisi penyimpanan saat ini dinilai sangat tinggi.

"Kapasitas gudang hanya 3 juta ton, sekarang 5 juta ton. Ini luar biasa," tutur Amran.

Amran menegaskan capaian stok beras nasional diraih tanpa impor karena seluruh kebijakan impor harus melalui persetujuan pemerintah dan hingga kini tidak ada tambahan pasokan dari luar negeri.

"Ada yang mengatakan, ini diragukan. Gimana diragukan? Impor tidak ada. Tanda tangannya kan (persetujuan impor) dari saya dengan Menteri Perdagangan. Tidak ada (impor beras), clear, kan?," beber Amran.

Selain itu, data peningkatan produksi pangan nasional juga didukung lembaga independen seperti Badan Pusat Statistik (BPS), Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (Food and Agriculture Organization/FAO) serta Departemen Pertanian Amerika Serikat atau United States Department of Agriculture (USDA).

Amran menilai berbagai laporan internasional tersebut membuktikan keberhasilan peningkatan produksi dan cadangan pangan nasional sehingga keraguan terhadap data stok beras pemerintah dinilai tidak berdasar. Dia menegaskan itu menyoroti adanya pihak yang meragukan capaian swasembada pangan yang diraih saat ini.

"Mereka yang mengatakan (tidak swasembada). Masa ahli pertanian sedunia mau disalahkan oleh satu orang individu oknum? Enggak mungkin," kata Amran.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Republika Online (@republikaonline)

 

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement