Kamis 07 May 2026 14:35 WIB

The Nusa Dua Jadi Benchmark Nasional Pengembangan Kawasan Pariwisata Berkelanjutan

ITDC NU kembangkan Integrated Waste Management dan utilitas terintegrasi di Nusa Dua.

Komisi VII DPR RI, Selasa (5/5/2026) meninjau implementasi sistem pengelolaan lingkungan dan utilitas kawasan berbasis Environmental, Social, and Governance (ESG) di The Nusa Dua, Bali.
Foto: ITDC
Komisi VII DPR RI, Selasa (5/5/2026) meninjau implementasi sistem pengelolaan lingkungan dan utilitas kawasan berbasis Environmental, Social, and Governance (ESG) di The Nusa Dua, Bali.

REPUBLIKA.CO.ID, NUSA DUA - InJourney Tourism Development Corporation (ITDC) melalui anak usahanya, ITDC Nusantara Utilitas (ITDC NU) memperkuat implementasi pengelolaan kawasan pariwisata berkelanjutan melalui sistem Integrated Waste Management dan utilitas terintegrasi di kawasan The Nusa Dua. Komitmen tersebut mendapat perhatian dalam kunjungan kerja Komisi VII DPR RI, Selasa (5/5/2026). Komisi VII meninjau implementasi sistem pengelolaan lingkungan dan utilitas kawasan berbasis Environmental, Social, and Governance (ESG) di The Nusa Dua, Bali.

The Nusa Dua adalah destinasi pariwisata terintegrasi pertama di Indonesia yang dikembangkan sejak 1973. The Nusa Dua telah berkembang dari proyek berbasis dukungan World Bank menjadi benchmark nasional pengembangan kawasan pariwisata berkelanjutan. Kawasan seluas 350 hektar, saat ini menaungi lebih dari 20 hotel internasional, sekitar 5.000 kamar, menyerap ±21.000 tenaga kerja, serta melayani sekitar ±3,8 juta kunjungan wisatawan setiap tahun.

Plt. Direktur Utama ITDC, Ahmad Fajar menyampaikan pengembangan kawasan pariwisata masa depan perlu didukung oleh infrastruktur hijau dan sistem utilitas yang berkelanjutan.  “The Nusa Dua merupakan bukti keberhasilan pengembangan kawasan pariwisata terintegrasi yang tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga mengedepankan keberlanjutan lingkungan melalui sistem utilitas dan pengelolaan limbah yang modern, terintegrasi, dan berbasis sirkular,” ujarnya.

Dalam pengelolaan kawasan, ITDC melalui ITDC NU mengembangkan berbagai utilitas strategis meliputi pengolahan air bersih melalui Seawater Reverse Osmosis (SWRO), reclaim water, pengolahan air limbah, dan distribusi Liquefied Natural Gas (LNG). Sementara itu, pengelolaan sampah terpadu, dan fasilitas komposting kawasan dikelola oleh Strategic Business Unit (SBU) The Nusa Dua sebagai bagian dari implementasi Integrated Waste Management System.

Saat ini, produksi sampah di kawasan The Nusa Dua mencapai sekitar ±32,3 ton per hari, dimana sekitar 70,5 persennya ialah sampah organik yang diolah kembali menjadi kompos. Secara keseluruhan, sekitar 95 persen sampah kawasan telah dikelola secara sistematis dan terintegrasi melalui pendekatan ekonomi sirkular. Sampah organik diolah menjadi kompos untuk dimanfaatkan kembali pada kebutuhan landscape kawasan, sedangkan sampah anorganik dipilah untuk didaur ulang atau dimanfaatkan kembali sebagai material bernilai ekonomi.

Melalui sistem tersebut, ITDC membangun ekosistem pengelolaan sampah berbasis sirkular yang mengubah limbah menjadi sumber daya bernilai tambah sekaligus mendukung operasional kawasan yang lebih ramah lingkungan.

Selain pengelolaan sampah, kawasan The Nusa Dua juga mengimplementasikan Integrated Lagoon & Utilities System yang berfungsi sebagai centralized utility system kawasan. Sistem ini mencakup pengolahan air limbah, pengolahan air bersih, fasilitas komposting, hingga distribusi gas terintegrasi.

“The Nusa Dua menjadi model kawasan pariwisata terintegrasi berbasis ESG yang tidak hanya mendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memastikan keberlanjutan lingkungan melalui sistem sirkular dan infrastruktur hijau,” kata Fajar.

photo
Komisi VII DPR RI, Selasa (5/5/2026) meninjau implementasi sistem pengelolaan lingkungan dan utilitas kawasan berbasis Environmental, Social, and Governance (ESG) di The Nusa Dua, Bali. - (ITDC)

 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement