Rabu 06 May 2026 14:17 WIB

Hippindo Sebut Lonjakan Ekonomi Kuartal I Ditopang Momentum Musiman

Waspadai risiko perlambatan konsumsi setelah periode hari besar berakhir.

Rep: M Nursyamsi/ Red: Satria K Yudha
Warga berburu kue kering di Toko Kue Satu Hati, Pasar Jatinegara, Jakarta, Sabtu (7/3/2026). Toko penjualan kue kering yang berada di lantai dasar tersebut mulai diserbu warga untuk membeli sajian saat merayakan Lebaran. Sejumlah warga sengaja berbelanja kue Lebaran lebih awal untuk menghindari kehabisan kue favorit, seperti nastar, kue keju, putri salju dan lainnya. Menurut warga, mereka memilih berbelanja di lokasi ini karena harganya relatif lebih terjangkau, yakni mulai dari Rp80 ribu hingga Rp200 ribu per kilogram, tergantung jenis dan kualitas bahan yang digunakan.
Foto: Republika/Prayogi
Warga berburu kue kering di Toko Kue Satu Hati, Pasar Jatinegara, Jakarta, Sabtu (7/3/2026). Toko penjualan kue kering yang berada di lantai dasar tersebut mulai diserbu warga untuk membeli sajian saat merayakan Lebaran. Sejumlah warga sengaja berbelanja kue Lebaran lebih awal untuk menghindari kehabisan kue favorit, seperti nastar, kue keju, putri salju dan lainnya. Menurut warga, mereka memilih berbelanja di lokasi ini karena harganya relatif lebih terjangkau, yakni mulai dari Rp80 ribu hingga Rp200 ribu per kilogram, tergantung jenis dan kualitas bahan yang digunakan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Ketua Umum Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) Budihardjo Iduansjah menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,61 persen pada kuartal I 2026 dipengaruhi faktor musiman yang mendorong konsumsi masyarakat. Aktivitas ekonomi meningkat seiring berdekatan sejumlah hari besar sejak akhir 2025 hingga awal tahun ini.

“Ya itu karena adanya event yang sangat banyak, dari Desember ada Imlek, Lebaran, Nyepi semua menumpuk, sehingga perputaran ekonomi, konsumsi berjalan dan ada THR,” kata Budihardjo saat dihubungi Republika di Jakarta, Rabu (6/5/2026).

Baca Juga

Budihardjo menjelaskan, selain momentum musiman, pergerakan ekonomi juga terdorong pelaksanaan berbagai program prioritas pemerintah yang mulai berjalan pada awal tahun. Implementasi program tersebut dinilai ikut meningkatkan peredaran uang di masyarakat.

“Hal itu bertepatan juga dengan program stimulus pemerintah yang mulai bergerak, mulai dari koperasi Merah Putih bangun-bangun tuh ada puluhan ribu, banyak orang bekerja, dapur (MBG), terus juga pembangunan perumahan,” ujar Budihardjo.

Namun, Budihardjo mengingatkan adanya risiko perlambatan konsumsi setelah periode hari besar berakhir. Menurut dia, pemerintah perlu menyiapkan langkah lanjutan untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi.

“Artinya semua program bergerak, ritel bergerak, konsumsi bergerak. Harusnya ini bagus, tapi akan berbahaya setelah Lebaran ini harus dilakukan sesuatu stimulus atau apa,” kata Budihardjo.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement