REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Pemerintah Indonesia menyiapkan rencana penerbitan Panda Bonds di China untuk memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah melalui diversifikasi sumber pembiayaan internasional. Langkah diversifikasi ini bertujuan mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap dolar AS.
“Untuk memperkuat nilai tukar, kami juga akan menerbitkan Panda Bonds di China dengan bunga yang lebih rendah sehingga kita tidak terlalu bergantung pada dolar AS. Dengan demikian, diversifikasi pembiayaan akan semakin baik ke depan,” kata Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dalam keterangan resmi Biro Pers, Media, dan Informasi (BPMI) Sekretariat Presiden di Jakarta, Rabu (6/5/2026).
Penerbitan instrumen utang di pasar China tersebut dinilai menguntungkan karena menawarkan tingkat bunga yang lebih kompetitif bagi pemerintah.
Strategi penguatan nilai tukar ini merupakan hasil pembahasan dalam rapat terbatas antara Presiden Prabowo Subianto bersama sejumlah menteri Kabinet Merah Putih dan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK).
Fokus utama pertemuan tersebut adalah menjaga momentum pertumbuhan ekonomi yang tengah mengalami akselerasi.
Selain penguatan rupiah, pemerintah juga mencatat capaian pertumbuhan ekonomi nasional yang meningkat menjadi 5,61 persen. Angka ini menunjukkan kenaikan dibandingkan periode sebelumnya yang berada di level 5,39 persen.
“Angka pertumbuhan ekonomi yang keluar hari ini sebesar 5,61 persen. Kami diskusikan dengan Bapak Presiden bahwa kita sudah mulai membalik arah ekonomi. Artinya, ekonomi kita sedang mengalami akselerasi,” ujar Purbaya.