Senin 27 Apr 2026 16:30 WIB

Pompanisasi Disiapkan Hadapi Ancaman El Nino

Kementerian Pertanian telah mengumpulkan kepala daerah untuk memperkuat mitigasi.

Rep: Frederikus Dominggus Bata/ Red: Satria K Yudha
Buruh tani memisahkan gabah bernas dari sekam dan kotoran menggunakan mesin pengembus padi seusai panen di areal persawahan Desa Jamus, Kecamatan Mranggen, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, Rabu (8/4/2026). Data Badan Pusat Statistik yang dirilis pada 1 April 2026 mencatat luas panen padi nasional pada Februari 2026 mencapai 0,94 juta hektare dengan produksi beras untuk konsumsi diperkirakan sebesar 2,91 juta ton, atau meningkat 0,18 juta hektare atau 23,62 persen dibandingkan Februari 2025 seluas 0,76 juta hektare.
Foto: ANTARA FOTO/Aji Styawan
Buruh tani memisahkan gabah bernas dari sekam dan kotoran menggunakan mesin pengembus padi seusai panen di areal persawahan Desa Jamus, Kecamatan Mranggen, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, Rabu (8/4/2026). Data Badan Pusat Statistik yang dirilis pada 1 April 2026 mencatat luas panen padi nasional pada Februari 2026 mencapai 0,94 juta hektare dengan produksi beras untuk konsumsi diperkirakan sebesar 2,91 juta ton, atau meningkat 0,18 juta hektare atau 23,62 persen dibandingkan Februari 2025 seluas 0,76 juta hektare.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Pemerintah menyiapkan program pompanisasi untuk mengantisipasi potensi El Nino yang diperkirakan memicu kekeringan. Langkah ini dilakukan untuk menjaga produksi pangan tetap stabil.

Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) yang juga Wakil Menteri Pertanian Sudaryono mengatakan, Kementerian Pertanian telah mengumpulkan ratusan kepala daerah untuk memperkuat mitigasi.

Baca Juga

“Program pompanisasi kita sudah kumpulkan kemarin 300 bupati dan beberapa gubernur datang ke Kementerian Pertanian untuk kita memitigasi bagaimana kita mengantisipasi El Nino Godzilla ini,” ujar Sudaryono di kantor Kementan, Jakarta, Senin (27/4/2026).

Sudaryono menyebut kondisi cuaca saat ini masih relatif mendukung. Curah hujan di sejumlah wilayah seperti Sumatera Selatan, Jambi, hingga Kalimantan masih cukup baik untuk percepatan tanam.

Menurut dia, petani di berbagai daerah memanfaatkan kondisi tersebut dengan menanam kembali setelah panen. Langkah ini dinilai penting untuk menjaga kesinambungan produksi sebelum musim kering datang.

“Sampai sejauh ini belum kelihatan ya, belum,” kata Sudaryono.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement