Sabtu 25 Apr 2026 14:20 WIB

Dunia Bergejolak, Ini Sejumlah Strategi RI Amankan Pasokan Energi

Indonesia yang masih bergantung pada impor minyak mentah terdampak konflik Hormuz.

Rep: Frederikus Dominggus Bata/ Red: Gita Amanda
Kapal-kapal kargo terlihat di Teluk Persia dekat Pulau Qeshm di provinsi Hormozgan, Iran, 23 Desember 2011 (diterbitkan ulang 20 Maret 2026). 70% pengiriman maritim di Selat Hormuz telah menurun sejak ketegangan di kawasan Teluk Persia meningkat pada 28 Februari 2026.
Foto: EPA
Kapal-kapal kargo terlihat di Teluk Persia dekat Pulau Qeshm di provinsi Hormozgan, Iran, 23 Desember 2011 (diterbitkan ulang 20 Maret 2026). 70% pengiriman maritim di Selat Hormuz telah menurun sejak ketegangan di kawasan Teluk Persia meningkat pada 28 Februari 2026.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM Laode Sulaeman menyampaikan pemerintah menyiapkan sejumlah strategi untuk mengamankan pasokan energi nasional di tengah gejolak geopolitik global. Langkah ini diarahkan menjaga ketahanan energi agar tetap stabil.

Ia menjelaskan tekanan di kawasan Timur Tengah, termasuk gangguan di jalur Selat Hormuz, memberi risiko terhadap rantai pasok energi dunia. Indonesia yang masih bergantung pada impor minyak mentah terdampak sehingga pemerintah mempercepat langkah mitigasi.

Baca Juga

“Saat ini langkah-langkah mitigasi yang telah dilakukan pemerintah antara lain diversifikasi impor energi, optimalisasi pasokan domestik dan biofuel, peningkatan kinerja kilang, penguatan kerja sama bilateral, serta kebijakan konsumsi bahan bakar dan LPG yang efisien,” tutur Laode di Jakarta, dikutip Sabtu (25/4/2026).

Ia menerangkan, diversifikasi impor dilakukan untuk mengurangi ketergantungan pada kawasan rawan konflik. Pemerintah juga menggenjot pemanfaatan energi domestik, termasuk biofuel, guna menjaga kesinambungan pasokan di dalam negeri.

Di sisi hulu, pemerintah mencatat temuan besar di Sumur Geliga, Blok Ganal. Cadangan tersebut diperkirakan mencapai 5 TCF gas dan 300 MMbbl kondensat, menjadi penopang tambahan pasokan energi dalam jangka panjang.

“Temuan ini menjadi pilar penting untuk mengejar target produksi minyak yang diproyeksikan mencapai 610 MBOPD pada 2026,” ujar Laode.

Pemerintah juga membuka peluang investasi lebih luas dengan menawarkan 116 blok migas baru kepada investor global. Skema kolaborasi teknologi dan operasi di wilayah kerja eksisting diperluas melalui Peraturan Menteri ESDM Nomor 14 Tahun 2025.

Berita Lainnya
Terpopuler

Rekomendasi