Jumat 24 Apr 2026 19:48 WIB

Soal Tren Pelemahan Rupiah, Purbaya: Ada Noise Seolah Kita Terpuruk

Noise itu tidak hanya datang dari luar, tapi juga di dalam pemerintahan.

Rep: Eva Rianti/ Red: Teguh Firmansyah
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa (kedua kanan) didampingi Sekretaris Jenderal Kementerian Keuangan Robert Leonard Marbun (kiri), Deputi Bidang Perekonomian Kementerian Sekretariat Negara Satya Bhakti Parikesit (kedua kiri) dan Staf Ahli Bidang Pengembangan, Produktivitas, dan Daya Saing Ekonomi Menko Perekonomian Evita Manthovani (kanan) memimpin Sidang Aduan Kanal Debottlenecking Satuan Tugas Percepatan Program Strategis Pemerintah (Satgas P2SP) di Aula Junada Kementerian Keuangan, Jakarta, Kamis (9/4/2026).
Foto: ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa (kedua kanan) didampingi Sekretaris Jenderal Kementerian Keuangan Robert Leonard Marbun (kiri), Deputi Bidang Perekonomian Kementerian Sekretariat Negara Satya Bhakti Parikesit (kedua kiri) dan Staf Ahli Bidang Pengembangan, Produktivitas, dan Daya Saing Ekonomi Menko Perekonomian Evita Manthovani (kanan) memimpin Sidang Aduan Kanal Debottlenecking Satuan Tugas Percepatan Program Strategis Pemerintah (Satgas P2SP) di Aula Junada Kementerian Keuangan, Jakarta, Kamis (9/4/2026).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Menteri Keuangan RI Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan, tidak hanya faktor global, penyebab pelemahan nilai tukar rupiah saat ini di antaranya adalah persoalan domestik.

Ia menyampaikan adanya noise –yang bernuansa pesimistis- di dalam negeri, menyebabkan nilai tukar rupiah kian tertekan.

Baca Juga

Pada perdagangan Jumat (24/4/2026), rupiah terpantau bergerak di sekitar level Rp 17.220-an per dolar AS. Beberapa hari belakangan, rupiah sempat menembus posisi terlemahnya sebesar Rp 17.300 per dolar AS.

“Kan juga terjadi noise yang seolah menggambarkan ekonomi kita sedang menuju keterpurukan dalam beberapa bulan ke depan,” kata Purbaya dalam agenda Media Briefing di Kantor Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan (BPPK), Kementerian Keuangan RI, Jakarta, Jumat (24/4/2026).

Purbaya menyinggung para pengamat atau ekonom yang menyampaikan proyeksi ekonomi terpuruk ditandai dengan terjadinya tren pelemahan rupiah. Seiring dengan kurang kuatnya fundamental ekonomi domestik, di tengah tantangan ketidakpastian global.

“Mereka bilang kan tiga bulan (ekonomi terpuruk), kan berarti dua bulan lagi, Juni atau Juli. Tapi keadaan enggak seperti itu,” ungkapnya.

Noise Ordal

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement