REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Direktur Utama PT PLN (Persero) Darmawan Prasodjo menekankan kolaborasi lintas sektor sebagai kunci memperkuat ketahanan energi nasional. Penekanan ini terutama terkait upaya percepatan transisi energi.
Ia menyampaikan hal tersebut saat membuka workshop bertajuk “HVDC Transmission: Indonesia’s Green Enabling Interconnection” di Auditorium Kantor Pusat PLN, Jakarta Selatan, Senin (20/4/2026). Kegiatan yang diselenggarakan Masyarakat Ketenagalistrikan Indonesia (MKI) bersama CIGRE Indonesia ini mempertemukan pelaku industri, regulator, hingga mitra global untuk membahas pengembangan sistem kelistrikan berbasis energi hijau.
“Dengan semangat kebersamaan, kita bisa menciptakan masa depan energi yang lebih baik. Kita ingin menghadirkan energi yang lebih terjangkau, mendorong investasi lebih besar, serta mempercepat pembangunan nasional,” kata Darmawan di Jakarta, dikutip Selasa (21/4/2026).
Forum tersebut mengulas peran teknologi High Voltage Direct Current (HVDC) sebagai tulang punggung interkoneksi listrik hijau di Indonesia. Teknologi ini dinilai penting untuk menghubungkan sumber energi terbarukan yang tersebar dengan pusat permintaan listrik.
Workshop diikuti 221 peserta dan menjadi bagian dari langkah strategis dalam menyambut rencana pemerintah memperkuat sistem elektrifikasi nasional. Fokus utama diarahkan pada kesiapan infrastruktur transmisi guna menopang bauran energi yang semakin hijau.
Dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034, pemerintah menargetkan penambahan kapasitas pembangkit sebesar 69,5 gigawatt (GW). Porsi energi terbarukan mencapai 76 persen atau sekitar 42,6 GW, mencakup tenaga surya, air, angin, dan panas bumi, serta dilengkapi sistem penyimpanan energi.
Komitmen tersebut sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto yang mendorong pembangunan pembangkit listrik tenaga surya hingga 100 GW dalam waktu relatif singkat. Pemerintah juga mengalokasikan dukungan fiskal ketahanan energi sebesar Rp402,4 triliun pada 2026.
Darmawan menerangkan kebutuhan pengembangan jaringan transmisi sepanjang sekitar 48.000 kilometer sirkuit guna menjembatani lokasi sumber energi terbarukan dengan pusat permintaan listrik. Salah satu proyek prioritas ialah interkoneksi Sumatra–Jawa berbasis HVDC dengan panjang sekitar 112 kilometer sirkuit.
Workshop tersebut menghadirkan sesi kuliah umum oleh Presiden CIGRE Prof. Dr. Konstantin Papailiou yang mengulas implementasi HVDC secara komprehensif. Sesi teknis juga melibatkan pelaku industri global seperti GE Vernova, Hitachi Energy, Siemens Energy, State Grid Power Indonesia, serta PLN.
Ketua Umum MKI Suroso Isnandar menyampaikan kegiatan ini merupakan bagian dari peran strategis MKI sebagai platform penghubung pemangku kepentingan sektor ketenagalistrikan. Ia menilai kolaborasi diperlukan untuk memastikan transisi energi berjalan terkoordinasi dan berkelanjutan.
“Interkoneksi ini bukan lagi wacana, tetapi kebutuhan krusial untuk mendukung transisi energi dan memastikan keandalan sistem kelistrikan nasional,” kata Suroso, yang juga menjabat sebagai Direktur Manajemen Proyek dan Energi Baru Terbarukan PLN.
Selain aspek teknis, forum juga membahas skema bisnis inovatif untuk pengembangan proyek HVDC, termasuk opsi pendanaan berbasis swasta. Perspektif industri disampaikan oleh sejumlah perusahaan, antara lain Kansai Electric Power Indonesia, Voksel, dan KEPCO.
Kolaborasi yang terbangun melalui forum ini diharapkan mempercepat realisasi proyek interkoneksi strategis sekaligus memperkuat fondasi sistem kelistrikan nasional. Sinergi antarpemangku kepentingan menjadi kunci agar transisi energi berjalan terarah dan berkelanjutan.