Senin 20 Apr 2026 13:59 WIB

Riset: Kenaikan Harga BBM Nonsubsidi Berdampak Terbatas Terhadap Inflasi

Tekanan inflasi dari kenaikan harga BBM nonsubsidi hanya bekerja di sisi marginal.

Daftar harga BBM jenis pertamax turbo hingga pertamina dex ditampilkan di salah satu SPBU di Jakarta, Sabtu (18/4/2026). PT Pertamina (Persero) menaikkan harga sejumlah produk bahan bakar Minyak (BBM) nonsubsidi. Kenaikan harga ini berlaku mulai hari ini, Sabtu (18/4). Kenaikan tersebut meliputi Pertamax Dex kini dibanderol Rp19.400 atau naik Rp6.300 per liter dari sebelumnya Rp13.100. Kemudian Dexlite kini dijual Rp 23.600 per liter, melonjak Rp 9.400 per liter dari sebelumnya Rp 14.200 per liter. Begitu pula dengan Pertamina Dex yang kini harganya sebesar Rp 23.900 per liter, naik Rp 9.400 per liter dari sebelumnya Rp 14.500 per liter.
Foto: Republika/Thoudy Badai
Daftar harga BBM jenis pertamax turbo hingga pertamina dex ditampilkan di salah satu SPBU di Jakarta, Sabtu (18/4/2026). PT Pertamina (Persero) menaikkan harga sejumlah produk bahan bakar Minyak (BBM) nonsubsidi. Kenaikan harga ini berlaku mulai hari ini, Sabtu (18/4). Kenaikan tersebut meliputi Pertamax Dex kini dibanderol Rp19.400 atau naik Rp6.300 per liter dari sebelumnya Rp13.100. Kemudian Dexlite kini dijual Rp 23.600 per liter, melonjak Rp 9.400 per liter dari sebelumnya Rp 14.200 per liter. Begitu pula dengan Pertamina Dex yang kini harganya sebesar Rp 23.900 per liter, naik Rp 9.400 per liter dari sebelumnya Rp 14.500 per liter.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kenaikan harga BBM nonsubsidi diperkirakan hanya menimbulkan tekanan inflasi yang terbatas. Riset BRI Danareksa Sekuritas yang diterbitkan Senin (20/4/2026) menyebut dampak kenaikan harga BBM nonsubsidi terbatas karena penggunanya segmen masyarakat berpendapatan tinggi.

Selain itu, kenaikan harga hanya ditetapkan untuk Pertamax Turbo, Pertamina Dex, dan Dexlite. Rata-rata kenaikan sekitar Rp 8.367 per liter. Sementara harga Pertamax masih belum ada perubahan.

Chief Economist and Head of Fixed Income Research BRI Danareksa Sekuritas, Helmy Kristanto dalam risetnya mengungkapkan, meski BBM nonsubsidi mencakup 44 persenkonsumsi total BBM, relevansinya terhadap inflasi melemah karena komposisinya masih didominasi Pertamax.

‘’Produk yang naik paling tajam, yaitu Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex, dikonsumsi segmen berpendapatan lebih tinggi dengan efek rambatan harga yang lebih lemah," kata Helmy menegaskan.

Secara historis, ia menambahkan, kenaikan Rp 1.000 per liter pada BBM kelas atas diperkirakan hanya menambah inflasi sekitar 0,02–0,15 poin persentase, jauh di bawah dampak penyesuaian BBM subsidi.

"Tekanan inflasi dari kenaikan harga BBM nonsubsidi relatif terbatas dan hanya bekerja di sisi marginal, bukan menjadi pendorong utama inflasi keseluruhan," ujarnya.

Pembukaan singkat Selat Hormuz setelah gencatan senjata sementara sempat meredakan kekhawatiran pasokan dan mendorong harga minyak Brent turun hampir 10 persen ke 86 dolar AS per barel, didukung optimisme negosiasi, termasuk pembahasan pelepasan dana Iran yang dibekukan.

Namun, kelegaan itu tidak bertahan lama. AS tetap mempertahankan blokade lautnya. Sementara Iran memberlakukan syarat transit ketat yang secara efektif menjaga kendali atas arus pelayaran.

Ketegangan kembali meningkat pada Sabtu (18/4) ketika Iran menutup kembali Selat Hormuz sebagai respons atas tekanan lanjutan dari AS, termasuk rencana penyitaan tanker terkait Iran, sehingga harga Brent naik kembali di atas USD 90 per barel.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement