Jumat 17 Apr 2026 17:51 WIB

Geopolitik Memanas Jadi Peluang Indonesia Rebut Pasar Ekspor

Konflik global justru membuka peluang baru bagi produk ekspor nasional.

Dari kiri ke kanan: Kepala Departemen Komunikasi, Indonesia Eximbank, Iwan Kurniawan, Direktur Pelaksana Bisnis II, Indonesia Eximbank, Bapak Sulaeman, Wakil Gubernur Jawa Timur, Bapak Emil Elistianto Dardak, Direktur PT Mega Global Food Industry, Bapak Richard Cahadi dan Direktur Pengelolaan Risiko Keuangan Negara Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Resiko, Tony Prianto.
Foto: Dok istimewa
Dari kiri ke kanan: Kepala Departemen Komunikasi, Indonesia Eximbank, Iwan Kurniawan, Direktur Pelaksana Bisnis II, Indonesia Eximbank, Bapak Sulaeman, Wakil Gubernur Jawa Timur, Bapak Emil Elistianto Dardak, Direktur PT Mega Global Food Industry, Bapak Richard Cahadi dan Direktur Pengelolaan Risiko Keuangan Negara Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Resiko, Tony Prianto.

REPUBLIKA.CO.ID, GRESIK -- Dinamika geopolitik global yang kian memanas, menciptakan turbulensi luar biasa pada rantai pasok dunia. Namun, di balik ketidakpastian tersebut, Indonesia melihat celah strategis untuk memperkuat posisi ekspornya, terutama di pasar-pasar non-tradisional.

Direktur Pengelolaan Risiko Keuangan Negara Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR), Tony Prianto, menegaskan skema Penugasan Khusus Ekspor (PKE) yang sedang digenjot pemerintah dirancang untuk memberikan daya dorong bagi eksportir yang membidik negara-negara non-tradisional. Di tengah disrupsi yang dialami pemain besar seperti China akibat ketegangan dengan Amerika Serikat (AS), produk Indonesia justru memiliki kesempatan untuk mengisi kekosongan pasar.

Baca Juga

Menurut Tony, PKE hadir sebagai solusi bagi hambatan struktural yang sering dihadapi pengusaha, seperti keterbatasan modal kerja atau ketiadaan rekam jejak (goodwill) yang cukup untuk mengakses perbankan komersial. Jika sekarang sudah terjadi perang, kemudian geopolitik juga genting, kata Tony, itu justru memberikan peluang bagi pengusaha. Pasar yang biasanya dikuasai China terdisrupsi, dan di sinilah PKE memberikan tambahan dukungan, baik dari sisi penjaminan maupun modal kerja.

"PKE sekarang sudah cukup mumpuni mendukung pengusaha baru maupun yang sudah ada. Harusnya gejolak ini bisa jadi sisi positif untuk meningkatkan jumlah ekspor,” ujar Tony Prianto saat berbicara dalam acara Kunjungan Kerja Pers 2026 bertema “Kemenkeu Dukung Sektor Padat Karya Dukung Pertumbuhan Ekonomi”, di Gresik, Jawa TImur, Jumat (17/4/2026).

Hal senada juga disampaikan Direktur Pelaksana Bisnis II LPEI, Sulaeman. Ia menjelaskan dalam situasi yang tidak menentu, pemilihan produk dan kejelasan transaksi (underlying) menjadi variabel kunci. LPEI memastikan setiap pembiayaan, mulai dari pengadaan bahan baku (trade finance) hingga pascapenjualan (post-financing), memiliki dasar yang akuntabel guna menjaga kesehatan finansial perusahaan di tengah dampak sistemik geopolitik.

Sulaeman mengatakan LPEI melakukan stress testing terhadap seluruh portofolio untuk melihat siapa saja yang terdampak gangguan rantai pasok. Langkah ini diambil untuk memetakan dampak gangguan rantai pasok terhadap portofolio eksportir, khususnya mereka yang memiliki basis pembeli di wilayah konflik seperti Timur Tengah.

"Namun, kami sudah melakukan antisipasi. Sangat penting bagi kami untuk memastikan underlying dari produk perdagangan tersebut jelas, baik untuk bahan baku maupun penjualan. Meski ada dampak ke finansial masing-masing perusahaan, antisipasi ini menjaga agar portofolio tetap terkendali,” jelas Sulaeman.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement