REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — PT Pertamina (Persero) mencatat produksi listrik dari energi baru terbarukan (EBT) mencapai 8.743 gigawatt hour (GWh) hingga 2025. Capaian ini memperkuat ketahanan kelistrikan nasional di tengah dinamika energi global.
Produksi listrik bersih tersebut ditopang pembangkit energi terbarukan dengan total kapasitas terpasang mencapai 3,1 gigawatt (GW). Pengembangan ini menjadi bagian dari strategi bisnis rendah karbon sekaligus respons atas fluktuasi harga energi dan ketidakpastian pasokan global.
Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero) Muhammad Baron menyampaikan pengembangan energi bersih terus diperkuat untuk menjaga keandalan sistem kelistrikan nasional.
“Di tengah dinamika energi global yang sangat dinamis, pengembangan energi baru terbarukan menjadi langkah strategis untuk memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus memastikan keberlanjutan pasokan listrik bagi masyarakat,” kata Baron di Jakarta, Kamis (16/4/2026).
Upaya tersebut dilakukan melalui diversifikasi sumber energi guna menekan ketergantungan pada energi fosil. Langkah ini dinilai penting mengingat volatilitas pasar energi global yang masih tinggi. Pengembangan EBT juga diarahkan untuk mengurangi risiko fluktuasi harga dan gangguan pasokan energi dunia. Pertamina menempatkan bauran energi sebagai instrumen utama dalam menjaga stabilitas sistem energi nasional.