Selasa 14 Apr 2026 13:53 WIB

Harga Minyak Terkoreksi Usai Sentuh 100 Dolar AS, Pasar Nantikan Negosiasi AS-Iran

Pernyataan Trump memicu harapan baru terhadap potensi kesepakatan damai.

Harga minyak turun pada perdagangan Asia, Selasa (14/4/2026) pagi, seiring harapan adanya pembicaraan damai lebih lanjut antara AS dan Iran yang meredakan kekhawatiran akan gangguan pasokan energi. (ilustrasi)
Foto: ANTARA /Zabur Karuru
Harga minyak turun pada perdagangan Asia, Selasa (14/4/2026) pagi, seiring harapan adanya pembicaraan damai lebih lanjut antara AS dan Iran yang meredakan kekhawatiran akan gangguan pasokan energi. (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Harga minyak turun pada perdagangan Asia, Selasa (14/4/2026) pagi, seiring harapan adanya pembicaraan damai lebih lanjut antara AS dan Iran yang meredakan kekhawatiran akan gangguan pasokan energi. Harga patokan global Brent crude turun sekitar 1 persen menjadi 98,40 dolar AS (Rp 72,85) per barel, sementara minyak yang diperdagangkan di AS turun 1,7 persen menjadi 97,40 dolar AS.

Presiden Donald Trump mengatakan Teheran telah menghubungi Washington mengenai kemungkinan kesepakatan. Sebelumnya, harga minyak sempat melonjak di atas 100 dolar AS per barel setelah Trump memerintahkan blokade pelabuhan Iran menyusul gagalnya negosiasi antara kedua pihak pada akhir pekan.

Baca Juga

“Saya bisa katakan kami sudah dihubungi oleh pihak lain. Mereka sangat ingin membuat kesepakatan,” kata Trump berbicara kepada wartawan di luar Gedung Putih pada Senin. 

Terpisah, The New York Times melaporkan Iran telah menawarkan untuk menangguhkan pengayaan uranium hingga lima tahun, namun tawaran itu ditolak AS yang bersikeras pada 20 tahun. Laporan tersebut, yang mengutip pejabat Iran dan AS, juga menyebutkan bahwa Washington dan Teheran telah saling bertukar proposal untuk menangguhkan aktivitas nuklir Iran selama pembicaraan di Pakistan, tetapi masih jauh dari kesepakatan.

Namun, laporan itu menambahkan diskusi tersebut menunjukkan masih ada peluang menuju kesepakatan damai, dengan kemungkinan putaran kedua pembicaraan tatap muka. BBC telah menghubungi Gedung Putih untuk komentar.

Komentar Trump mungkin dipandang sebagai "tanda kemungkinan deeskalasi,” menurut Jiajia Yang, profesor asosiasi dari James Cook University, Australia. Alasan lain harga minyak turun bisa jadi karena para pedagang melakukan koreksi jangka pendek setelah harga melonjak pada Senin, tambahnya.

Pasar akan mengamati dengan seksama apakah Teheran memutuskan menunda rencana nuklirnya. "Langkah yang akan secara signifikan meredakan ketegangan,” kata Yang.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement