Kamis 09 Apr 2026 22:39 WIB

Persaingan Industri Tenaga Alih Daya Kian Ketat, PKSS Perluas Pasar Bisnis

Syarat pembentukan perusahaan tenaga alih daya diminta diperketat.

Presiden Direktur PT PKSS Sadmiadi memberikan keterangan pers terkait tantangan industri tenaga alih daya Indonesia di Jakarta, Kamis (9/4/2026).
Foto: Istimewa
Presiden Direktur PT PKSS Sadmiadi memberikan keterangan pers terkait tantangan industri tenaga alih daya Indonesia di Jakarta, Kamis (9/4/2026).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Tantangan industri penyediaan jasa tenaga alih daya semakin kompetitif. Persaingan terasa dari munculnya perusahaan baru sejenis dan terbatasnya suplai tenaga kerja yang memiliki standar mumpuni.

Hal itu setidaknya yang dirasakan PT Prima Karya Sarana Sejahtera (PKSS), anak usaha BRI yang bergerak di industri tersebut.  

Baca Juga

"Tenaga ahli daya ini memang ini kita dihadapkan pada situasi ketat seperti dalam rekrutmen satpam (security), pengemudi (driver), itu bisnis yang mudah dimasukkan oleh kompetitor, jenis usaha yang mudah ditiru," ujar Presiden Direktur PT PKSS, Sadmiadi, saat memberikan keterangan pers di Jakarta, Kamis (9/4/2026).

Persaingan itu, kata Sadmiadi, misalnya sudah sampai kepada penawaran harga kepada klien. "Saling sikut, kelangsungan perusahaan bisa terancam," katanya menekankan.

Sekadar gambaran, PT PKSS merupakan anak perusahaan atau bagian dari Yayasan Kesejahteraan Pekerja Bank Rakyat Indonesia (BRI). PKSS bergerak di bidang pengelolaan sumber daya manusia yang memiliki lebih dari 300 klien dengan tenaga rekrutan mencapai 52 ribu orang di 35 wilayah di seluruh Indonesia.

Sekitar 70 persen bekerja di pekerjaan dasar seperti satpam, sopir, cleaning service, hingga kurir dengan rata-rata lulusan SMA. Selain itu ada pekerjaan di posisi sekretaris, admin, IT hingga layanan contact centre dengan rata jebolan D3 ke atas.

Berkaca pada persaingan itu, menurut Sadmiadi, PKSS terus memperkuat langkah perluasan pasar bisnis. Selain di bidang Manpower Process Outsourcing atau tenaga alih daya, perusahaan fokus pada penyediaan layanan BPO (Business Proces Outsourcing) atau alih daya di bidang keuangan.

Misal pengelolaan sumber daya di layanan sales dan collection. "Kita tawarkan ke klien -klien itu sehingga terkait biaya yang dikeluarkan tak lagi fokus ke fix cost," ujarnya.

Hanya saja rekrutmen di sektor keuangan terutama di sales maupun collection ini bukanlah perkara mudah. Karena banyak sumber daya tenaga kerja yang lebih memilih untuk bekerja di bagian dalam seperti admin atau cleaning service. "Ini juga menjadi tantangan kita," katanya. 

Di luar MPO dan BPO, PT PKSS juga memperluas pasar pada layanan Knowledge Process Outsourcing (KPO) atau alih daya tingkat lanjut. KPO fokus pada pekerjaan berbasis informasi, analisis, dan keahlian khusus seperti riset pasar dan analisis keuangan.

"Saat ini kita porsi MPO masih 94 persen, sementara BPO 4 persen, dan 1,7 persen (KPO). Kita ingin porsi di luar MPO ini bertambah," ujarnya.

Direktur Finansial dan Operasi PT PKSS Issuhersatyo menambahkan ada cara pandang yang harus diubah dalam pola pikir tenaga kerja di Indonesia. Selama ini banyak yang punya mindset seperti pekerjaan di PNS (pegawai negeri sipil) yakni dapat gaji, status dan pensiunan. "Mindset-nya ini harus diubah," ujarnya.

Di banyak negara lain, justru pekerja ingin terus meningkatkan skill atau kemampuannya dengan bekerja di banyak tempat dan posisi. "Nah kami ingin menjadi bridging talent ini, setiap orang harus kemampuan untuk men-develop diri kami menyediakan laangan kerja yang banyak," katanya.

Ia pun tak menampik sulitnya mencari talenta di salles dan bagian collection. Karena banyak tenaga yang direkrut memilih untuk bekerja di bagian 'dalam', tidak berhubungan langsung dengan orang luar.  "Padahal salles ini melatih kemampuan komunikasi kita." 

 

Berita Lainnya

Rekomendasi