REPUBLIKA.CO.ID, BRUSSEL -- Krisis harga energi di Uni Eropa (UE) belum akan berakhir dalam waktu dekat meski gencatan senjata antara Amerika Serikat (AS) dan Iran telah tercapai. Sekitar 8,5 persen impor gas alam cair (LNG) dan 40 persen bahan bakar jet dan diesel untuk kebutuhan UE melewati Selat Hormuz.
"Secara umum, kita tidak boleh berilusi bahwa krisis yang saat ini berdampak pada harga energi akan berumur pendek, itu tidak akan terjadi," kata Juru Bicara Komisi Uni Eropa untuk Aksi Iklim dan Energi, Anna-Kaisa Itkonen, Rabu (8/4/2026).
Itkonen menyebutkan UE mendapatkan sekitar 8,5 persen LNG yang berasal dari Selat Hormuz.
"Sedangkan untuk minyak, termasuk minyak mentah dan produk olahannya, sekitar 7 persen, sebagian besar berasal dari Irak, Kuwait, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab, dan untuk bahan bakar jet dan diesel sekitar 40 persen," ujarnya.
Meningkatnya konflik di sekitar Iran praktis menghentikan pengiriman melalui Selat Hormuz, yang merupakan jalur pasokan utama untuk minyak dan LNG global. Akibatnya, harga bahan bakar meningkat di sebagian besar negara.
Pada Selasa malam (7/4/2026) Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan telah menyetujui gencatan senjata bilateral selama dua pekan dengan Iran dan mengatakan bahwa Iran juga telah setuju untuk membuka Selat Hormuz. Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran mengatakan bahwa Amerika menyetujui proposal 10 poin Iran. Selanjutnya, Teheran akan memulai pembicaraan dengan Amerika Serikat pada Jumat (10/4/2026) di Islamabad, Pakistan.
With the greatest humility, I am pleased to announce that the Islamic Republic of Iran and the United States of America, along with their allies, have agreed to an immediate ceasefire everywhere including Lebanon and elsewhere, EFFECTIVE IMMEDIATELY.
I warmly welcome the…
— Shehbaz Sharif (@CMShehbaz) April 7, 2026