Kamis 09 Apr 2026 06:22 WIB

Permintaan LPG Terus Naik, Tekanan Pasokan Meningkat

Fokus utama diarahkan untuk menjaga kecukupan LPG 3 kilogram.

Rep: Frederikus Dominggus Bata/ Red: Lida Puspaningtyas
Pekerja mengisi tabung gas elpiji tiga kilogram bersubsidi di SPBE Bumi Mitra Wira, Pesanggrahan, Jakarta, Selasa (23/12/2025). Menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025, Pertamina memastikan stok cadangan Liquefied Petroleum Gas (LPG) nasional dalam kondisi aman sesuai standar cadangan nasional. Pertamina menjaga ketersediaan LPG sebagai salah satu prioritas sektor energi dengan ketahanan pasokan mencapai 12 hingga 17 hari guna memenuhi peningkatan kebutuhan masyarakat selama periode Nataru.
Foto: Republika/Prayogi
Pekerja mengisi tabung gas elpiji tiga kilogram bersubsidi di SPBE Bumi Mitra Wira, Pesanggrahan, Jakarta, Selasa (23/12/2025). Menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025, Pertamina memastikan stok cadangan Liquefied Petroleum Gas (LPG) nasional dalam kondisi aman sesuai standar cadangan nasional. Pertamina menjaga ketersediaan LPG sebagai salah satu prioritas sektor energi dengan ketahanan pasokan mencapai 12 hingga 17 hari guna memenuhi peningkatan kebutuhan masyarakat selama periode Nataru.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat ketergantungan Indonesia terhadap impor LPG terus meningkat pada awal 2026. Hingga Februari, impor LPG telah memenuhi 83,97 persen dari total kebutuhan nasional, naik dari 80,58 persen pada 2025.

Kenaikan itu menunjukkan produksi LPG dalam negeri masih belum mampu mengejar pertumbuhan kebutuhan nasional yang terus bertambah.

Baca Juga

“Pada tahun 2026 hingga Februari ketergantungan impor LPG meningkat menjadi 83,97 persen dari total kebutuhan,” kata Sekretaris Direktorat Jenderal Migas Kementerian ESDM Muhammad Rizwi Jilanisaf Hisjam dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi XII DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (8/4/2026).

Rizwi menerangkan, kebutuhan LPG nasional pada 2025 tercatat sebesar 25.000 metrik ton per hari. Memasuki 2026 hingga Februari, kebutuhannya naik menjadi 26.000 metrik ton per hari.

Di sisi lain, pasokan dari produksi domestik belum menunjukkan kemampuan untuk menutup kebutuhan tersebut. Akibatnya, impor tetap menjadi tulang punggung utama dalam menjaga suplai LPG nasional.

Ia melanjutkan, tekanan pasokan tidak hanya berasal dari kenaikan konsumsi, tetapi juga dari struktur energi nasional yang masih bertumpu pada pasokan luar negeri. Kondisi ini menempatkan LPG sebagai salah satu komoditas energi yang paling rentan terhadap gejolak rantai pasok global.

“Dari grafik yang kami sampaikan terlihat bahwa produksi dalam negeri masih jauh di bawah kebutuhan, sehingga impor LPG tetap mendominasi pasokan nasional,” ujar Rizwi.

photo
Pasokan tabung LPG 3 kilogram Pertamina Patra Niaga. - (Pertamina Patra Niaga)

 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement