Rabu 08 Apr 2026 16:00 WIB

Harga Plastik Melonjak, Menperin Siapkan Bahan Baku Daur Ulang

Pemerintah memperluas sumber bahan baku dan dorong daur ulang.

Pedagang merapikan gelas plastik di salah satu toko plastik di kawasan Pasar Minggu, Jakarta, Kamis (2/4/2026). Harga berbagai produk berbahan plastik mengalami kenaikan di sejumlah daerah dengan lonjakan yang cukup tinggi. Menurut pedagang, kenaikan harga mencapai hingga 80 persen, dengan rata-rata kenaikan berkisar antara Rp8.000 hingga Rp10.000. Sebagai contoh, harga kantong kresek ukuran 24 naik dari Rp13.000 menjadi Rp20.000 per pak. Kenaikan tersebut terjadi secara bertahap dalam tiga minggu terakhir. Penyebab utamanya adalah gangguan pasokan bahan baku dari Timur Tengah akibat konflik, yang menghambat impor nafta yang merupakan produk turunan minyak bumi.
Foto: Republika/Prayogi
Pedagang merapikan gelas plastik di salah satu toko plastik di kawasan Pasar Minggu, Jakarta, Kamis (2/4/2026). Harga berbagai produk berbahan plastik mengalami kenaikan di sejumlah daerah dengan lonjakan yang cukup tinggi. Menurut pedagang, kenaikan harga mencapai hingga 80 persen, dengan rata-rata kenaikan berkisar antara Rp8.000 hingga Rp10.000. Sebagai contoh, harga kantong kresek ukuran 24 naik dari Rp13.000 menjadi Rp20.000 per pak. Kenaikan tersebut terjadi secara bertahap dalam tiga minggu terakhir. Penyebab utamanya adalah gangguan pasokan bahan baku dari Timur Tengah akibat konflik, yang menghambat impor nafta yang merupakan produk turunan minyak bumi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan pemerintah terus mengupayakan diversifikasi bahan baku serta mendorong pemanfaatan daur ulang guna menjaga ketersediaan plastik nasional di tengah tekanan geopolitik global. Menanggapi dinamika harga dan pasokan bahan baku plastik, Agus dalam keterangan yang dikonfirmasi di Jakarta, Rabu (8/4/2026), menjelaskan bahwa eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah telah memengaruhi rantai pasok industri petrokimia global, khususnya pada komoditas nafta yang menjadi bahan baku utama plastik.

“Eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah telah memicu koreksi suplai pada sektor-sektor industri yang bergantung pada nafta sebagai bahan baku utama. Mengingat plastik merupakan produk turunan dari proses petrokimia berbasis minyak bumi, gangguan pada jalur distribusi dan produksi global memang memberikan tekanan pada struktur biaya di tingkat hulu,” ujarnya.

Baca Juga

Sebagai respons, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) bersama pelaku industri petrokimia hulu mengambil sejumlah langkah strategis untuk menjaga keberlangsungan produksi dalam negeri, salah satunya dengan memperluas sumber pasokan bahan baku.

“Industri sedang aktif menjajaki pasokan nafta dari negara-negara di luar kawasan Timur Tengah untuk mengurangi ketergantungan wilayah,” kata Agus.

Selain itu, optimalisasi penggunaan LPG juga dilakukan sebagai bahan baku penyangga dalam proses produksi.

“Penggunaan LPG dioptimalkan sebagai bahan baku penyangga atau buffer dalam proses produksi guna menutupi kekurangan pasokan nafta,” tambahnya.

Di sisi lain, pihaknya turut mendorong peningkatan penggunaan plastik daur ulang berkualitas tinggi sebagai substitusi bahan baku.

“Pemerintah mendorong peningkatan penggunaan plastik hasil daur ulang atau recycled plastic berkualitas tinggi sebagai substitusi pasokan untuk menjaga stabilitas stok di pasar,” jelasnya.

photo
Menperin Agus Gumiwang Kartasasmita. - (Republika/Prayogi)

Terkait isu keterbatasan stok yang disebut hanya mencukupi hingga Mei, Agus memastikan kondisi industri masih dalam fase ekspansi.

Berdasarkan data Indeks Kepercayaan Industri (IKI), subsektor industri kemasan pada Maret 2026 menunjukkan kinerja yang sangat tinggi sehingga stok produk plastik dinilai masih mencukupi.

“Upaya pengamanan pasokan terus berjalan secara paralel,” tegasnya.

Meski demikian, ia mengakui adanya koreksi harga di tingkat produksi seiring kenaikan biaya bahan baku global. Namun, pemerintah memastikan ketersediaan produk tetap terjaga.

“Memang terjadi koreksi harga di tingkat produksi akibat kenaikan biaya bahan baku global,” kata Menperin.

“Masyarakat dan industri hilir tidak perlu panik karena produk plastik dipastikan masih tersedia di pasar. Pemerintah berkomitmen memastikan tidak terjadi kekosongan stok dengan mengoptimalkan berbagai kanal pasokan alternatif,” ungkap Agus.

Lebih lanjut, pihaknya juga memperkuat sinergi dengan pelaku industri manufaktur untuk mengantisipasi dampak gangguan rantai pasok global. Langkah ini dilakukan guna menjaga daya tahan industri nasional sekaligus memastikan pemenuhan kebutuhan domestik dan ekspor tetap berjalan optimal.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement