REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Asosiasi Air Minum Dalam Kemasan Indonesia (Amdatara) menyoroti tantangan serius yang dihadapi industri AMDK terkait kenaikan harga bahan baku kemasan akibat gejolak global yang terjadi saat ini. Diperkirakan, kondisi ini tidak hanya mengancam kelangsungan ribuan usaha dan puluhan ribu lapangan kerja, tetapi juga berpotensi mengganggu akses masyarakat terhadap air minum aman bagi kesehatan publik.
”Kami menyampaikan keprihatinan serius atas tekanan yang semakin berat terhadap industri air minum dalam kemasan (AMDK) akibat lonjakan harga bahan baku kemasan, terutama plastik yang berbasis minyak bumi,” ujar Ketua Umum Amdatara, Karyanto Wibowo, dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Selasa (7/4/2026).
Dia menuturkan gejolak global akibat perang AS-Israel versus Iran yang pecah sejak 28 Februari 2026 menyebabkan harga minyak mentah dunia melonjak. Harganya naik dari sekitar 67 dolar AS per barel menjadi 98 dolar AS per barel pada pertengahan Maret 2026.
Sementara itu harga gas alam acuan di Asia dan Eropa melesat lebih dari 60 persen dalam periode yang sama. “Karena lebih dari 99 persen plastik global diproduksi dari bahan bakar fosil (minyak bumi dan gas alam), kenaikan harga energi ini langsung berdampak pada biaya produksi dan bahan baku plastik,” katanya.
Amdatara memperkirakan lonjakan harga bahan baku hingga 100 persen ini berpotensi mendorong kenaikan harga kemasan sekitar 25–50 persen. Kenaikan ditentukan jenis material, volume produksi, dan skala usaha perusahaan.
Jika kondisi ini berlanjut, Karyanto mengatakan, harga jual produk AMDK di pasar berisiko mengalami kenaikan, terutama bagi produsen kecil dan menengah yang memiliki stok terbatas dan likuiditas yang lebih rendah. “Hal ini tidak hanya mengancam kelangsungan ribuan usaha dan puluhan ribu lapangan kerja, tetapi juga berpotensi mengganggu akses masyarakat terhadap air minum aman yang selama ini menjadi kontribusi penting industri AMDK bagi kesehatan publik,” ujarnya.
Dia mengungkapkan berdasarkan laporan anggota asosiasi di berbagai daerah, kenaikan harga bahan baku kemasan pada beberapa jenis material mencapai 100 persen dalam waktu relatif singkat. Ia menegaskan kenaikan harga bahan baku kemasan yang mencapai dua kali lipat ini tidak lagi bisa dianggap sebagai fluktuasi biasa.
“Ini merupakan tekanan struktural yang secara langsung memukul daya tahan industri, terutama di saat pelaku usaha tetap berupaya menjaga keterjangkauan harga produk bagi masyarakat,” ucapnya.
Industri AMDK merupakan salah satu pilar penting sektor manufaktur nasional. Saat ini terdapat 707 pabrik dengan kapasitas produksi terpasang mencapai 47 miliar liter per tahun dan menyerap sekitar 46.000 tenaga kerja langsung. Industri ini juga mendukung jutaan pekerja di sepanjang rantai pasok distribusi serta berkontribusi signifikan terhadap perekonomian Indonesia sebagai bagian dari subsektor makanan dan minuman.
Karyanto berharap pemerintah bersedia hadir secara aktif sebagai penyangga (shock absorber) bagi industri strategis seperti AMDK melalui langkah-langkah konkret. Di antaranya, relaksasi kebijakan sebesar 20–30 persen pada komponen biaya terkait bahan baku dan energi.
Ia mengusulkan penurunan sementara PPN kemasan dari 11 persen menjadi 8 persen. Lalu relaksasi Bea Masuk Anti Dumping/BMAD, serta stimulus pajak penghasilan untuk UMKM di sektor AMDK. “Insentif yang kami minta ini bukanlah privilese, melainkan penopang agar industri tetap dapat berjalan, tenaga kerja terlindungi, pasokan produk ke masyarakat tetap terjaga, dan stabilitas ekonomi nasional tidak terganggu,” kata dia.