Rabu 01 Apr 2026 18:30 WIB

Menteri Purbaya akan Tambah Rp 100 Triliun untuk Subsidi Energi

Lonjakan harga minyak dunia dorong pemerintah tambah anggaran subsidi energi.

Rep: Bayu Adji Prihammanda/ Red: Gita Amanda
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan akan menambah anggaran sebesar Rp 90 triliun–Rp 100 triliun untuk subsidi energi. (ilustrasi)
Foto: Dian Fath Risalah/Republika
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan akan menambah anggaran sebesar Rp 90 triliun–Rp 100 triliun untuk subsidi energi. (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan akan menambah anggaran sebesar Rp 90 triliun–Rp 100 triliun untuk subsidi energi di tengah perang antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran yang menyebabkan krisis energi global.

“Rp 90 triliun–Rp 100 triliun,” ujar Purbaya ketika ditemui di Wisma Danantara Indonesia, Jakarta, Rabu (1/4/2026).

Baca Juga

Purbaya menyampaikan anggaran hingga Rp 100 triliun tersebut ditujukan untuk subsidi energi, bukan kompensasi. Adapun komoditas energi yang ditanggung dengan skema subsidi antara lain LPG 3 kg dan solar.

Sedangkan kompensasi adalah dana yang dibayarkan pemerintah kepada badan usaha (seperti Pertamina) untuk menutupi selisih antara harga jual eceran yang ditetapkan pemerintah dengan harga keekonomian (harga pasar) bahan bakar minyak (BBM).

Adapun komoditas yang ditanggung oleh pemerintah menggunakan skema kompensasi adalah Pertalite yang merupakan Jenis Bahan Bakar Khusus Penugasan (JBKP). “Itu (Rp 90 triliun–Rp 100 triliun) subsidi. Kompensasi lain lagi. Saya lupa (angka kompensasi),” ujar Purbaya.

Di luar tambahan subsidi tersebut, pemerintah sebelumnya menganggarkan subsidi energi sebesar Rp 210,1 triliun, atau sekitar 65,87 persen dari total anggaran subsidi dalam APBN 2026 yang ditetapkan sebesar Rp 318,9 triliun.

photo
Petugas berdiri di samping mesin pengisian bahan bakar minyak (BBM) di SPBU COCO Jalan Ahmad Yani, Semarang, Jawa Tengah. - (ANTARA FOTO/Aprillio Akbar)

Sedangkan, apabila digabung dengan kompensasi, maka anggaran yang digelontorkan oleh pemerintah untuk ketahanan energi mencapai Rp 381,3 triliun. Purbaya pun menjamin defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tetap terkendali hingga akhir tahun.

“Ini sudah kami hitung semua. Nanti meski dengan rata-rata harga minyak dunia 100 dolar AS per barel pun, kita sudah mengunci defisit di bawah 3 persen, yakni sekitar 2,9 persen. Jadi tidak masalah,” ujar Purbaya.

Purbaya dalam konferensi pers yang dipantau secara daring di Jakarta, Selasa (31/3/2026), mengatakan pengelolaan anggaran terus dijaga berkesinambungan sehingga APBN tetap memiliki ruang untuk memberi bantalan terhadap gejolak perekonomian dunia.

Oleh sebab itu, dia meminta masyarakat tidak perlu khawatir terhadap potensi pelebaran defisit APBN. Pemerintah telah memaparkan sejumlah skenario dampak kenaikan harga minyak dunia terhadap APBN.

 

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement