REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA — Institute for Development of Economics and Finance (Indef) memproyeksikan tingkat inflasi Maret 2026 berpotensi sedikit lebih tinggi dibandingkan rata-rata. Ini didorong oleh inflasi komoditas pangan dan energi, tetapi masih berada dalam kisaran target pemerintah.
Direktur Eksekutif Indef Esther Sri Astuti menyatakan, kenaikan harga kedua komoditas tersebut salah satunya dipengaruhi oleh peningkatan permintaan selama periode Ramadhan dan Idul Fitri 1447 Hijriyah serta dampak dari gejolak geopolitik global.
“Karena ada efek Ramadhan dan Lebaran, serta konflik geopolitik, tingkat inflasi pada Maret 2026 sedikit lebih tinggi, tetapi masih dalam koridor target pemerintah sebesar 2,5 persen plus minus 1 persen,” ujar Esther Sri Astuti saat dihubungi dari Jakarta, Selasa (31/3/2026).
Ia menjelaskan, terdapat tiga jenis inflasi yang berpotensi mendorong peningkatan Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Maret 2026, yakni demand-pull inflation, cost-push inflation, serta imported inflation.
Ia menuturkan, demand-pull inflation terjadi karena kenaikan permintaan barang dan jasa yang tinggi selama periode Ramadhan dan Lebaran dibandingkan hari biasa.