REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menepis kekhawatiran soal kondisi ekonomi nasional yang disebut melemah. Ia justru menegaskan ekonomi Indonesia masih berada dalam fase ekspansi dan berpeluang tumbuh hingga 6 persen.
Purbaya mengatakan, keyakinan itu ditopang sejumlah indikator ekonomi yang masih menunjukkan tren positif. Ia bahkan membandingkan dengan proyeksi pelaku pasar yang dinilai tetap optimistis terhadap kinerja ekonomi Indonesia.
“Saya tanya orang di luar pemerintah, berapa prediksi kamu? 5,7 persen bisa, katanya. Menurut saya, di atas 5,5 persen sudah bagus dalam kondisi sekarang,” ujar Purbaya di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Jumat (27/3/2026).
Menurut dia, sejumlah indikator seperti survei konsumen, Purchasing Managers’ Index (PMI), hingga penjualan kendaraan bermotor masih menunjukkan ekspansi. Data tersebut menjadi sinyal bahwa aktivitas ekonomi terus bergerak.
“Kalau indikator itu tidak naik, saya juga tidak bisa bilang ekonomi naik,” katanya.
Purbaya juga menilai daya beli masyarakat tetap terjaga, terutama didorong momentum Lebaran yang meningkatkan mobilitas dan konsumsi. “Siapa yang bilang krisis? Di mana-mana macet, orang belanja. Artinya daya beli masih ada,” tegasnya.
Di tengah tekanan global, terutama kenaikan harga minyak dunia, pemerintah disebut masih mampu meredam dampaknya melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
“Kita bisa mitigasi harga minyak dunia yang tinggi karena kita serap di APBN,” ujar Purbaya.
Ia menambahkan, pemerintah saat ini fokus menjaga likuiditas ekonomi tetap memadai serta memastikan belanja negara tersalurkan tepat waktu. Selain itu, perbaikan iklim usaha terus dilakukan agar sektor swasta semakin bergerak.