REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- PT Sarinah menargetkan peningkatan jumlah pengunjung sebesar 15 persen pada libur Lebaran 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 611 ribu pengunjung. Direktur Komersial InJourney Holding Veronica H Sisilia mengatakan, target ini ditetapkan seiring dengan momentum mobilitas nasional yang meningkat selama Ramadan serta berbagai strategi program untuk mendorong transaksi.
"Momentum pencairan THR yang umumnya terjadi satu hingga dua pekan sebelum Idul Fitri juga mendorong peningkatan konsumsi domestik," ujar Veronica dalam keterangan tertulis di Jakarta, Kamis (5/2/2026).
Veronica menjelaskan, Sarinah memiliki peranan yang penting di momentum ini sebagai touchpoint dalam ekosistem di bawah InJourney. Veronica menyampaikan, momentum ini menjadi periode krusial, di mana mobilitas dan konsumsi domestik meningkat signifikan.
"Sarinah kami harapkan sebagai Cultural Experience Center, tak hanya sekedar ruang transaksi namun juga ruang interaksi budaya dan gaya hidup yang melengkapi perjalanan wisatawan," kata Veronica.
Sejalan dengan hal tersebut, PT Sarinah memprediksi puncak transaksi akan terjadi pada 6 Maret hingga 13 Maret 2026, bertepatan dengan periode pencairan THR.
Direktur Utama PT Sarinah Raisha Syarfuan mengatakan, Ramadan momentum untuk mempertegas positioning Sarinah sebagai Cultural Experience Centre. Sarinah tidak hanya menawarkan promosi, tetapi menghadirkan pengalaman yang terkurasi mulai dari Malam Berkah Extra sebagai penggerak transaksi, Gema Ramadan yang mengangkat tradisi Nusantara, hingga focal point atrium yang menjadi simbol ruang berbagi.
"Kami ingin setiap kunjungan ke Sarinah terasa bermakna, bukan sekadar berbelanja," ujar Raisha.
Raisha menyampaikan, program yang paling diunggulkan tahun ini adalah Happy Hours bertajuk Malam Berkah Extra yang diselenggarakan pada 6 hingga 8 Maret 2026 mulai pukul 20.00 hingga 22.00 WIB dengan penawaran diskon hingga 50 persen. Program ini dirancang sebagai strategi konversi berbasis waktu yang memaksimalkan momentum belanja malam hari setelah berbuka puasa, khususnya pada periode puncak THR.
"Selain mendorong transaksi, Sarinah juga memperkuat aktivasi budaya melalui rangkaian Gema Ramadan yang berlangsung pada periode yang sama," lanjut Raisha.
Raisha mengatakan aktivasi ini mengangkat tradisi Indonesia melalui acara pawai obor dan marawis dalam Gema Lentera Ramadan, pertunjukan Rampak Bedug sebagai wujud syukur dalam Gema Bedug Raya, pertunjukan angklung bernuansa Ramadan, serta kegiatan Ngabuburit di Sarinah yang menjadi ruang kebersamaan lintas komunitas. Melalui pendekatan ini, ucap Raisha, Sarinah bukan hanya menjadi ruang belanja, melainkan juga ruang budaya dan interaksi publik.
"Dari sisi visual dan pengalaman ruang, Sarinah menghadirkan focal point atrium dengan konsep Pedesaan Nusantara yang terinspirasi dari kekayaan budaya Sumatera Selatan," ucap Raisha.
Untuk mendukung peningkatan kunjungan, lanjut Raisha, Sarinah juga melakukan penyesuaian jam operasional pada periode Lebaran, yakni pada Malam Takbiran pukul 10.00–20.00 WIB, serta pada Hari Raya pukul 12.00–22.00 WIB. Sementara itu, pada hari-hari berikutnya operasional kembali normal.