REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menjadi seorang freelancer memberikan tantangan tersendiri dalam mengelola arus kas, terutama karena penghasilan yang tidak menentu setiap bulan dan tak adanya Tunjangan Hari Raya (THR) yang jadi penolong saat Lebaran. Financial Educator, Aliyah Natasya, menekankan pentingnya bagi para pekerja lepas untuk menghitung rata-rata penghasilan tahunan sebagai dasar anggaran bulanan, agar momen Hari Raya tak membuat sengsara.
Menurutnya, dalam siklus 12 bulan, setiap bisnis pasti akan mengalami fase “bulan baik” dan “bulan buruk”, sehingga sangat berbahaya jika seseorang hanya menyusun anggaran berdasarkan ekspektasi pendapatan di bulan-bulan terbaik saja.
Kunci utama bagi freelancer untuk bertahan adalah mengenali pola pengeluaran klien dan memiliki rencana pemasaran pribadi layaknya sebuah perusahaan. "Satu hal yang saya pelajarin dari dunia media, sebenarnya kita punya marketing plan. Dimana juga kita tahu kapan klien-klien kita itu akan melakukan spending. So it's the same sama marketing plan yang seharusnya kita gunakan sebagai freelancer," ujarnya.
Aliyah juga menyarankan agar para pekerja mandiri benar-benar memahami batas biaya hidup mereka dan segera membangun dana cadangan atau buffer pada tahun-tahun awal karier. “Jadi, di tahun pertama yang saya fokuskan adalah punya buffer. Jadi kalau tabungan saya belum sampai segitu, saya sadar betul saya belum boleh liburan atau spending apa-apa,” ujar Aliyah Natasya dalam Acara Press Conference dan Buka Bersama tiket.com, di Jakarta, Senin (23/2/2026) kemarin.
Baginya, kesadaran diri dan kemampuan mengelola emosi dalam berbelanja adalah penyelamat finansial yang paling ampuh. "It's tough, tapi setahun kamu lewat, dua tahun kamu lewat, tiga tahun kamu udah tahu patternnya tuh seperti apa.