REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan program gentengisasi membuka peluang besar bagi industri genteng nasional untuk melakukan ekspansi kapasitas. Menurut Agus, industri genteng yang tergabung dalam Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki) memiliki tingkat utilisasi yang tinggi. Kondisi tersebut menunjukkan kesiapan sekaligus kebutuhan industri untuk memperluas produksi seiring dengan arah kebijakan pemerintah.
“Jadi yang tadi utilisasinya teman-teman Asaki sudah 90 persen, dengan adanya program gentengisasi, masih bisa ekspansi, tidak ada pilihan lain. Jadi harus siap-siap,” ujar Menperin di Jakarta, Selasa (3/2/2026).
Ia menjelaskan, penggunaan genteng sebagai atap memiliki berbagai keunggulan dibandingkan material lain, baik dari sisi kenyamanan, ketahanan, maupun dampak lingkungan. Hal ini menjadi dasar kuat bagi pemerintah untuk mendorong gerakan gentengisasi secara berkelanjutan.
Menperin menilai kebijakan gentengisasi merupakan peluang strategis bagi pelaku industri untuk tumbuh lebih besar. Pemerintah, kata dia, telah mencanangkan gerakan tersebut sebagai arah kebijakan nasional.
“Jadi memang banyak keunggulan, saya kira pemerintah sudah mencanangkan gerakan gentengisasi, dan ini sebuah opportunity yang luar biasa bagi teman-teman Asaki,” kata Menperin.
Sementara itu, Ketua Umum Asaki Edy Suyanto menyambut positif arah kebijakan tersebut. Ia menyebut gentengisasi memberikan optimisme baru bagi industri genteng nasional yang berada di bawah naungan Asaki.
“Bagi kami ini tentu sebuah kabar yang sangat menggembirakan. Ini memberikan kami optimisme baru lagi untuk sektor genteng,” ujarnya.
Edy menjelaskan, saat ini Asaki memiliki anggota dengan kapasitas produksi mencapai 85 juta meter persegi per tahun. Tingkat utilisasi industri telah berada di atas 90 persen, menandakan kebutuhan mendesak untuk melakukan ekspansi.
“Kapasitas 85 juta meter persegi per tahun produksinya. Boleh dikatakan hari ini sudah optimal utilisasinya, sudah di atas 90 persen,” katanya.
Seiring arahan Presiden yang menjadikan gentengisasi sebagai program nasional, Asaki menyatakan kesiapan penuh untuk melakukan ekspansi kapasitas, membuka pasar baru, serta menyerap tenaga kerja tambahan.
Ia menambahkan, ekspansi industri genteng berpotensi mendorong pendirian pabrik-pabrik baru, termasuk melalui koordinasi dengan Koperasi Desa Merah Putih.
Meski demikian, Edy menekankan pentingnya peran pemerintah, terutama dalam memastikan ketersediaan energi gas dan bahan baku untuk mendukung keberhasilan program gentengisasi.
“Kami juga membutuhkan sumber bahan baku, yaitu berupa clay. Ini untuk bahan bakar, untuk bahan baku genteng. Jadi itulah yang menjadi tantangan bagi kami. Secara pasar, secara teknologi, secara human resources, secara permodalan kami yakin kami siap untuk melakukan ekspansi,” katanya.
Presiden Prabowo Subianto menginginkan adanya gerakan nasional penggantian atap seng menjadi genteng berbahan tanah liat atau gentengisasi sebagai bagian dari upaya memperindah wajah Indonesia.
Saat membuka Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pemerintah Pusat dan Daerah di Sentul, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Senin (2/1), Presiden mengatakan penggunaan atap seng masih banyak mendominasi rumah-rumah di Indonesia.
Menurut Presiden, kondisi tersebut tidak hanya membuat lingkungan terlihat kurang indah, tetapi juga berdampak pada kenyamanan penghuni rumah karena cenderung panas dan mudah berkarat.
“Saya ingin semua atap Indonesia pakai genteng. Jadi nanti ini gerakannya adalah gerakan, proyeknya adalah proyek gentengisasi seluruh Indonesia,” ujar Prabowo.
Gagasan proyek gentengisasi nasional ini, kata Presiden, akan melibatkan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih sebagai ujung tombak produksi.