Rabu 28 Jan 2026 12:18 WIB

Mengapa Pengumuman MSCI Bikin IHSG Anjlok? Ini Penjelasan Pengamat

Kebijakan MSCI berpotensi menahan aliran dana pasif dari pengelola dana global.

Rep: Eva Rianti/ Red: Satria K Yudha
Pengumuman MSCI membuat IHSG terkoreksi cukup dalam pada perdagangan Rabu (28/1/2026).
Foto: Republika/Prayogi
Pengumuman MSCI membuat IHSG terkoreksi cukup dalam pada perdagangan Rabu (28/1/2026).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah tajam pada perdagangan Rabu (28/1/2026) setelah pengumuman hasil konsultasi Morgan Stanley Capital International (MSCI) terkait penilaian free float saham Indonesia dalam MSCI Global Standard Index.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), hingga pukul 11.54 WIB IHSG turun 7,31 persen ke level 8.319,45. Tekanan jual terjadi sejak awal perdagangan dan meluas pada saham-saham berkapitalisasi besar.

Baca Juga

Praktisi Pasar Modal sekaligus Co-founder Pasar Dana, Hans Kwee, menilai pelemahan IHSG berkaitan langsung dengan keputusan MSCI yang membekukan sementara perubahan indeks untuk sekuritas Indonesia. Kebijakan tersebut berpotensi menahan aliran dana pasif dari pengelola dana global yang menjadikan indeks MSCI sebagai acuan.

“IHSG terkoreksi setelah pengumuman MSCI terkait pembekuan sementara perubahan indeks untuk sekuritas Indonesia. Selama masa pembekuan, tidak ada tambahan saham maupun peningkatan bobot saham Indonesia di MSCI,” ujar Hans Kwee kepada Republika, Rabu (28/1/2026).

Menurut Hans, kondisi tersebut mendorong pelaku pasar melakukan aksi ambil untung jangka pendek. Kekhawatiran investor muncul karena peluang masuknya dana pasif ke pasar saham domestik menjadi terbatas dalam waktu dekat.

MSCI merupakan lembaga global yang menyusun indeks pasar saham dunia dan menjadi rujukan utama investor internasional dalam menempatkan dana investasinya. Indeks MSCI menjadi  “peta” atau “klasemen” pasar saham global karena menentukan negara mana saja yang layak menjadi tujuan investasi berdasarkan kriteria tertentu.

Indeks yang disusun MSCI, seperti MSCI World Index, MSCI Emerging Markets, dan MSCI Frontier Markets, digunakan oleh reksa dana global, dana pensiun, hingga sovereign wealth fund. 

Banyak dari pengelola dana tersebut hanya boleh berinvestasi di negara dan saham yang tercantum dalam indeks MSCI sesuai mandat investasi mereka. Karena itu, perubahan penilaian MSCI dapat langsung memengaruhi arus dana global, tanpa bergantung pada sentimen jangka pendek.

MSCI juga mengelompokkan pasar saham suatu negara ke dalam kelas tertentu, mulai dari pasar maju, pasar berkembang, hingga pasar perintis. Indonesia saat ini masih berada dalam kategori pasar berkembang. Status ini penting karena menentukan jenis dan besaran dana global yang dapat masuk ke pasar saham domestik.

Dalam melakukan penilaian, MSCI mempertimbangkan sejumlah faktor utama, seperti porsi saham yang benar-benar beredar di publik atau free float, transparansi kepemilikan, likuiditas perdagangan, kemudahan akses bagi investor asing, serta tata kelola pasar. Jika terdapat masalah pada aspek-aspek tersebut, MSCI dapat menahan penyesuaian indeks, menurunkan bobot saham, atau melakukan evaluasi lanjutan terhadap status pasar suatu negara.

Bagi Indonesia, keputusan MSCI sangat berpengaruh karena banyak saham berkapitalisasi besar di Bursa Efek Indonesia tercantum dalam indeks MSCI Emerging Markets. Setiap sinyal evaluasi atau perubahan penilaian dari MSCI berpotensi memicu pergerakan signifikan di pasar saham, baik dalam bentuk aliran dana masuk maupun keluar.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement