REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan di Jakarta, Selasa (20/1/2025), bergerak melemah 30 poin atau 0,18 persen menjadi Rp 16.985 per dolar AS dari sebelumnya Rp 16.955 per dolar AS. Namun, Analis Mata Uang Doo Financial Futures Lukman Leong memperkirakan rupiah berpotensi menguat seiring dolar AS yang tertekan oleh aksi jual obligasi AS.
“Rupiah berpotensi menguat terhadap dolar AS yang kembali tertekan oleh aksi jual obligasi AS oleh investor,” katanya di Jakarta, Selasa (20/1/2026).
Aksi jual tersebut mendorong kenaikan imbal hasil obligasi AS dari kisaran 4,13 persen menjadi 4,25 persen. Di sisi lain, penguatan rupiah diperkirakan terbatas karena investor masih bersikap wait and see menjelang Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) yang digelar pada Rabu (21/1).
Adapun pengunduran diri Juda Agung sebagai Deputi Gubernur BI dinilai tidak memberikan dampak signifikan terhadap pergerakan rupiah.
“Perihal pengunduran diri Deputi BI memang bukan hal yang positif, namun apa pun alasannya, dampaknya tidak akan besar dibandingkan hal-hal yang dikhawatirkan saat ini seperti defisit anggaran dan prospek pemangkasan suku bunga BI,” ungkap Lukman.
Berdasarkan faktor-faktor tersebut, nilai tukar rupiah diperkirakan bergerak di kisaran Rp 16.700–Rp 17.000 per dolar AS.