REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS masih melanjutkan tren pelemahan hingga menyentuh level di atas Rp 16.850 per dolar AS. Pelemahan Mata Uang Garuda terjadi seiring dengan terjadinya gejolak demonstrasi yang terjadi di Iran.
Mengutip Bloomberg, rupiah melemah 36 poin atau 0,21 persen menuju Rp 16.855 per dolar AS pada penutupan perdagangan Senin (12/1/2026). Pada perdagangan sebelumnya, rupiah berada di posisi Rp 16.819 per dolar AS.
“Pasar memantau meningkatnya gejolak di Iran, di mana kerusuhan yang terkait dengan protes anti-pemerintah telah menewaskan lebih dari 500 orang, menurut laporan. Ketegangan meningkat setelah Teheran memperingatkan bahwa mereka dapat menargetkan pangkalan militer AS jika Presiden Donald Trump campur tangan atas nama para pengunjuk rasa, meningkatkan kekhawatiran akan konflik regional yang lebih luas,” kata Pengamat Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi dalam keterangannya, Senin (12/1/2026).
Trump diketahui menyampaikan kepada wartawan pada Ahad bahwa militer AS atas arahannya mempertimbangkan hal itu dengan serius. Ia menyebut pihaknya sedang mempertimbangkan beberapa opsi yang sangat kuat.
Selain itu, Ibrahim menuturkan, ketidakpastian politik juga bergulir di Washington setelah Departemen Kehakiman AS mengancam Federal Reserve dengan kemungkinan dakwaan pidana. Ketua Federal Reserve Jerome Powell mengatakan bank sentral telah menerima panggilan pengadilan dari dewan juri terkait kesaksiannya di Senat. “Sebuah langkah yang telah mengguncang pasar dan menghidupkan kembali kekhawatiran tentang independensi bank sentral,” ujar Ibrahim.
Ia melanjutkan mengenai sentimen eksternal yang memengaruhi rupiah. Data ekonomi dinilai juga memainkan peran kunci dalam mengangkat harga emas batangan. Pada Jumat, data pemerintah AS menunjukkan peningkatan lapangan kerja non-pertanian sebesar 50 ribu pekerjaan pada Desember, meleset dari ekspektasi kenaikan 66 ribu, sementara tingkat pengangguran sedikit turun menjadi 4,4 persen, di bawah perkiraan 4,5 persen.
“Data pekerjaan yang lebih lemah memperkuat tanda-tanda pendinginan pasar tenaga kerja dan memperkuat spekulasi bahwa Federal Reserve mungkin akan melonggarkan kebijakan moneter lebih lanjut pada tahun 2026,” terangnya.