REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Badan Pusat Statistik (BPS) menyampaikan data nilai tukar petani (NTP) nasional pada Desember 2025 sebesar 125,35, atau naik 1,05 persen dibandingkan NTP bulan sebelumnya. Deputi Statistik Bidang Distribusi dan Jasa BPS Pudji Ismartini mengatakan, peningkatan NTP terjadi karena indeks harga yang diterima petani (IT) naik sebesar 2,08 persen, lebih tinggi dari peningkatan indeks harga yang dibayar petani (IB) yang sebesar 1,02 persen.
“Komoditas yang dominan memengaruhi indeks harga yang diterima petani nasional adalah gabah, cabai rawit, kakao atau biji coklat, dan ayam ras pedaging,” kata Pudji dalam konferensi pers di Kantor BPS, Jakarta, Senin (5/1/2026).
Berdasarkan NTP subsektor, tanaman pangan (NTPP) mengalami penurunan 0,14 persen menjadi 113,49 pada Desember 2025 dari posisi sebesar 113,65 pada November 2025. Lalu, NTP holtikultura (NTPH) tercatat sebesar 138,70 pada Desember 2025, naik 14,48 persen dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 121,15.
“Subsektor yang mengalami penurunan NTP terdalam adalah tanaman perkebunan rakyat (NTPR), dengan penurunan sebesar 1,25 persen. Hal itu terjadi karena IT turun sebesar 0,14 persen, namun IB mengalami peningkatan sebesar 1,13 persen. Komoditas yang dominan memengaruhi penurunan IT adalah tebu, kelapa sawit, kelapa dan biji jambu mete,” terangnya.
Selanjutnya, NTP peternakan (NTPT) pada Desember 2025 102,76, naik 0,77 persen dari bulan sebelumnya sebesar 101,97. Adapun NTP perikanan (NTNP) pada Desember 2025 tercatat 104,84, naik 0,42 persen dibandingkan bulan November 2025 sebesar 104,41.
Adapun NTP nelayan (NTN) tercatat 105,32 pada Desember 2025, naik 0,36 dari bulan sebelumnya sebesar 104,94. Terakhir, NTP pembudidaya ikan (NTPi) pada Desember 2025 naik 0,51 persen menjadi 104,09 dari posisi pada November 2025 sebesar 103,56.