Jumat 28 Feb 2025 07:42 WIB

Saham Empat Bank BUMN Melemah, Ini ''Biang Keroknya''

Penurunan paling dalam dialami Bank Mandiri dan BRI anjlok lebih dari 4 persen.

Rep: Dian Fath Risalah/ Red: Gita Amanda
Saham 4 bank BUMN melemah akibat outflow dan Trumponomics 2.0. (ilustrasi)
Foto: Republika/Thoudy Badai
Saham 4 bank BUMN melemah akibat outflow dan Trumponomics 2.0. (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Saham empat bank besar milik negara melemah pada perdagangan Kamis (27/2/2025). Penurunan paling dalam dialami oleh PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), yang masing-masing anjlok lebih dari 4 persen.  

Berdasarkan data perdagangan, saham BMRI turun 5,28 persen ke level Rp 4.660 per lembar, sementara BBRI merosot 4,97 persen ke posisi Rp 3.630. PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) juga terkoreksi 0,23 persen ke Rp 4.340, sedangkan PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) turun 0,56 persen ke Rp 895.  

Baca Juga

Menurut Senior Investment Information Mirae Asset Nafan Aji Gusta, pelemahan saham perbankan BUMN disebabkan oleh arus keluar modal (outflow), terutama akibat ketidakpastian kondisi politik dan ekonomi domestik.  

"Sebenarnya penurunan harga sama bank BUMN ini kan merupakan faktor daripada outflow yang terjadi ya. Karena para pelaku investor menantikan tekad dengan kondisi politik maupun juga ekonomi domestik atau makro ekonomi domestik yang lebih kondusif ya. Jadi kondisi politik maupun juga makro ekonomi domestik yang sudah kondusif kembali ternyata para pelaku investor akan masuk seperti itu," jelas Nafan kepada Republika, Jumat (28/2/2025).

Selain itu, investor saat ini tengah mengalihkan aset mereka ke instrumen yang lebih aman, seperti emas, serta ke pasar negara maju, khususnya Amerika Serikat. "Kadang-kadang investor kan sedang mengalihkan asetnya ke instrumen yang seperti safe haven, ya kan. Seperti Emas misalnya yang menunjukkan uptrend ya mau mencapai level 3.000 ya kan. Nah di sisi lain juga ini ya ke advanced economic markets khususnya Amerika Serikat karena berkaitan dengan Trumponomics 2.0 yang memang kebijakan ini mendorong capital inflow untuk mengalir ke pasar modal Amerika Serikat yang kita lihat juga US technology saja melalui penguatan kan seperti itu," jelas Nafan.  

Lebih lanjut, ia menjelaskan kebijakan ekonomi AS saat ini turut mempengaruhi pergerakan modal secara global. Trumponomics memberikan efek dimana pengaruh pengaruh daripada invest in Amerika itu sangat kuat secara global.

"Karena berkaitan dengan deregulasi, deregulatisasi kebijakan program yang terapkan oleh Trump yang memang walaupun ini sifatnya menyebabkan menjadi protectionism tapi kalau sama Trump ini juga mendorong terkait dengan increase of manufacturing output hemat saya ya dan memang ini kan tentunya juga bisa menciptakan ini ya balance rate yang mengurangi defisit dalam balance rate hemat saya seperti itu," paparnya.  

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement