REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- SETARA Institute bersama Sustainable-Inclusive Governance Initiative (SIGI) telah meluncurkan laporan bertajuk “Business and Human Righs (BHR) Outlook 2025: 10 Prioritas Isu Bisnis dan HAM di Indonesia,”. Laporan ini memuat outlook dan forecast tentang situasi dan tantangan global dan nasional isu Bisnis dan HAM. Outlook BHR ditujukan untuk mendorong semua pihak menaruh perhatian dan merancang agenda bersama untuk terus mendorong sektor bisnis mengintegrasikan prinsip-prinsip HAM dalam operasionalisasnya.
Penetapan isu prioritas didasarkan pada kerangka risiko environment, social dan governance (ESG) dalam tata kelola bisnis, yang dihimpun dalam 10 isu prioritas Bisnis dan HAM yang relevan dengan risiko ESG, yaitu satu, memastikan terwujudnya tata kelola sektor perkebunan, pertambangan, dan pembangunan infrastruktur yang transparan dan akuntabel, kedua mendorong skema perdagangan karbon yang berkeadilan, pencegahan perubahan iklim dan deforestasi, ketiga memastikan jaminan perlindungan hak bagi pekerja GIG, pekerja sektor informal, dan pekerja rumah tangga (PRT), keempat memastikan perlindungan pekerja dan serikat pekerja untuk mewujudkan decent work (pekerjaan yang layak), kelima memastikan perlindungan pekerja migran di darat dan laut dari praktik-pratik pelanggaran HAM yang merugikan.
Kemudian, keenam memastikan just transition dalam konteks just energy transition, lalu ketujuh memastikan harmonisasi kebijakan perlindungan HAM dalam operasionalisasi bisnis. Kedelapan mendorong penerapan kebijakan mandatori uji tuntas HAM, kesembilan mencegah sektor keuangan dalam pembiayaan proyek yang berpotensi melanggar HAM, dan terakhir merespons secara serius upaya untuk mengintegrasikan Bisnis dan HAM dalam ESG. Iman Prihandono, Dekan Fakultas Hukum Unair sekaligus akademisi pada isu Bisnis dan HAM, mengapresiasi inisiatif ini sebagai langkah maju untuk membentuk ekosistem Bisnis dan HAM yang lebih mapan. Inisiatif riset Bisnis dan HAM ini mesti menjadi agenda tahunan dalam membangun diskursus Bisnis dan HAM yang lebih praktikal di masa depan. Ia menambahkan agar penting pula paradigma Bisnis dan HAM menjadi disiplin tersendiri yang masuk dalam kurikulum kampus.
Kristy Nelwan, Head of Communication Unilever Indonesia, menyebutkan prinsip-prinsip HAM, Inklusi dan keberagaman telah menjadi core dalam operasionalisasi perusahaan. BHR Outlook dapat menjadi panduan bagi perusahaan untuk menekankan aspek-aspek mana yang perlu untuk di-address atau diatasi sebagai upaya untuk mewujudkan praktik bisnis yang bertanggung jawab (responsible business practice).
Komisioner Komnas HAM, Prabianto Mukti Wibowo, menyoroti urgensi mendorong regulasi mandatori uji tuntas HAM yang diterapkan secara bertahap pada sektor-sektor berisiko tinggi. Pada sektor keuangan, ia menekankan agar SETARA Institute turut mengawal langkah untuk melakukan riset dan advokasi, di tengah gencarnya investasi berbasis ESG.
SETARA Institute meyakini bahwa melalui kerangka ESG, isu-isu seperti tata kelola sektor perkebunan, tambang dan pembangunan infrastruktur akan sejalan dengan topik lingkungan dan tata kelola dalam ESG. Kemudian, isu untuk memastikan perlindungan pekerja dan serikat pekerja untuk mewujudkan decent work (pekerjaan yang layak) juga sejalan dengan topik sosial dalam ESG. Begitupun dengan isu untuk mendorong skema perdagangan karbon, pencegahan perubahan iklim dan deforestasi yang berkeadilan, paralel dengan topik lingkungan dalam ESG. Lebih dari itu, memanfaatkan momentum pada sektor keuangan yang memanfaatkan ESG dalam aspek investasi dan pembiayaan, mesti diselaraskan dengan prinsip bisnis dan HAM, agar implementasi dari UNGPs dapat benar-benar diterapkan secara adil dan bertanggung jawab (from principles to practices).