Kamis 18 Jul 2024 06:30 WIB

Gubernur BI Beri Sinyal Penurunan Suku Bunga pada Kuartal IV 2024

Prediksi penurunan BI rate pada kuartal IV dipengaruhi oleh setidaknya tiga faktor.

Rep: Eva Rianti/ Red: Lida Puspaningtyas
Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG) BI bulan Juli 2024 yang digelar di Gedung BI, Jakarta Pusat pada Rabu (17/7/2024).
Foto: Eva Rianti
Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG) BI bulan Juli 2024 yang digelar di Gedung BI, Jakarta Pusat pada Rabu (17/7/2024).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan bahwa BI memperkirakan kemungkinan penurunan suku bunga (BI Rate) pada kuartal IV 2024. Hal itu diprediksi dengan melihat kondisi global, terutama perkembangan ekonomi di Amerika Serikat.

“Kami masih melihat ruang untuk arah suku bunga BI rate akan turun kemungkinan pada triwulan IV,” kata Perry dalam konferensi pers di Kompleks BI, Rabu (17/7/2024).

Baca Juga

Menurut penjelasannya, prediksi penurunan BI rate pada kuartal akhir 2024 dipengaruhi oleh setidaknya tiga faktor. Yakni perkembangan suku bunga bank sentral AS The Federal Reserve atau Fed Fund Rate (FFR), imbal hasil treasury, dan pergerakan dolar AS.

Pertama mengenai faktor FFR. Perry mengungkapkan bahwa pihaknya memprediksi bahwa penurunan FFR kemungkinan akan terjadi pada November 2024. Bukan pada Desember 2024 seperti prediksi awal. Dia menyebut tidak berani mengatakan maju ke September, meskipun pasar sudah ada yang memprediksi majunya penurunan FFR pada September.

“Kami perkirakan yang terkini ada probabilitas FFR turun di November. Kalau seperti itu, membuka peluang probabilitas rupiah akan menguat atau setidaknya lebih stabil dengan probabilitas FFR yang lebih maju,” jelasnya.

Faktor kedua adalah mengenai pergerakan suku bunga obligasi pemerintah atau yield US treasury. Yield US treasury 10 tahun diproyeksikan tetap tinggi karena kebutuhan defisit anggaran pemerintah AS. Defisit AS, lanjut Perry, ada tanda-tanda akan mengalami kenaikan 6—7 persen.

“Tapi itu masih tidak pasti, tergantung dampak dari pemilu. Itu kenapa sekarang suku bunga obligasi pemerintah yang jangka pendek 2 tahun lebih tinggi dari 10 tahun,” tuturnya.

Menurut penuturannya, yield US treasury notes (2 tahun) adalah 4,7 persen, sedangkan yield US treasury 10 tahun sebesar 4,4 persen. Angka tersebut diyakini memberi pengaruh.

“Tapi ke depan mulai triwulan IV, US treasury notes dengan 10 tahun kemungkinan akan sama. Tapi triwulan III, US treasury 2 tahun masih lebih tinggi dari yang 10 tahun,” ujarnya.

Adapun faktor ketiga yakni mengenai pergerakan dolar AS. Perry menuturkan, seiring dengan dampak penurunan FFR yang akan maju dan US treasury akan mulai konvergen, kemungkinan dolar AS tidak akan sekuat sekarang dan bakal melemah.

“Jadi arah BI rate akan turun kemungkinan masih sama yaitu triwulan IV. Kami akan lihat, tergantung FFR, US treasury, dan bagaimana dolarnya,” tuturnya. 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement