Senin 11 Mar 2024 22:18 WIB

UMKM Didorong Masuk Rantai Pasok Global

Rantai pasok blue economy masih sangat terganggu dari sisi pakan yang sangat mahal.

Rep: Iit Septyaningsih/ Red: Lida Puspaningtyas
Paket Ikan yang didistribusian 50 kg ikan oleh eFishery Foundation kepada masyarakat prasejahtera di Bratang Tangkis, Surabaya, Beberapa waktu lalu
Foto: Dok Republika
Paket Ikan yang didistribusian 50 kg ikan oleh eFishery Foundation kepada masyarakat prasejahtera di Bratang Tangkis, Surabaya, Beberapa waktu lalu

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menyatakan, terus berupaya menyosialisasi dan mengedukasi Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) agar meningkatkan daya saing. Dengan begitu, dapat membantu mereka berkompetisi di pasar regional maupun internasional.

"Rencana Go Global dalam persaingannya, bagaimana UMKM bisa memiliki pemahaman komoditas yang strategis dan penguasaan teknologi. Ini akan membantu Kadin logistik promote the trade, dengan harapannya membangun ekosistem trade yang mature,” ujar Kepala Badan Logistik dan Rantai Pasok Kadin Indonesia Akbar Djohan dalam keterangan resmi pekan lalu.

Baca Juga

Ia menekankan, perlu adanya kesempatan berkelanjutan serta langkah konkret dari pemerintah guna mendorong UMKM masuk dalam industri rantai pasok. Jika tidak ada langkah tersebut, sambung dia, maka UMKM sulit menjadi rantai pasok.

Sebagai salah satu agregator para petani di sektor aquaculture atau blue economy, e-Fishery menjadi startup Aqua-Tech pertama di Asia, yang konsisten membangun ekosistem aquakultur berkelanjutan dengan teknologi yang membantu budidaya ikan dan udang. Head of RGR e-Fishery Luciana Dita Chandra Murni menyampaikan, aquakultur memiliki potensi untuk berperan penting dalam meningkatkan ketahanan pangan. 

“Kami percaya aquakultur adalah kunci dalam mengatasi isu kelaparan global,” katanya.

E-Fishery hadir, sambung Luciana, memberikan layanan dari hulu ke hilir untuk pembudidaya ikan. Menyediakan mulai dari kemudahan dalam transaksi pakan, akses ke institusi keuangan yang terdaftar dan terawasi, serta platform untuk menjual ikan hasil panen secara menguntungkan.

“Rantai pasok blue economy masih sangat terganggu dari sisi pakan yang sangat mahal. Maka, kami hadir dengan pemberian pakan. Kami mampu memangkas 74 persen waktu panen. Dari yang biasanya proses mencapai 4-5 bulan, hanya menjadi 2,5-3 bulan,” jelas Luciana.

Ia menambahkan, e-Fishery membantu pembudidaya yang terlilit utang untuk membeli pupuk dan pakan. Maka, e-Fishery membentuk Kabayan (Kasih, Bayar Nanti) yang merupakan layanan finansial bagi pembudidaya tanpa menggunakan jaminan. 

“Jaminannya itu dari sistem validasi kolam. Nanti dari situ akan dilihat kelayakannya dan hitungan dalam memberi pakan atau pupuk,” katanya. Luciana berharap, dalam membantu keberlangsungan hilirisasi dari aquaculture melalui budidaya ikan dan udang, ada kerja sama stakeholder agar bisa memantau harga ikan dan udang di berbagai daerah.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement