Sabtu 17 Feb 2024 07:47 WIB

Pengamat Yakin Netanyahu akan Mendapat Ganjaran Politik

Harus diakui, 139 negara telah mengakui Palestina.

Rep: Lintar Satria/ Red: Lida Puspaningtyas
Pengunjuk rasa pro-Palestina mengangkat spanduk, bendera, dan plakat saat demonstrasi di London, Sabtu, (3/2/2024)
Foto: AP Photo/Kin Cheung
Pengunjuk rasa pro-Palestina mengangkat spanduk, bendera, dan plakat saat demonstrasi di London, Sabtu, (3/2/2024)

REPUBLIKA.CO.ID, TEL AVIV -- Mantan negosiator Israel yang selama bertahun-tahun berpengalaman berhubungan dengan Hamas, Gershon Baskin mengatakan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu kerap memberikan pesan dalam bahasa Ibrani ke masyarakat Israel.

Dalam pesan itu, kata Baskin, Netanyahu menegaskan sepanjang ia menjabat sebagai perdana menteri tidak akan ada negara Palestina merdeka sebagai tetangga Israel.

Baca Juga

"Saya akan menekankan 'selama saya perdana menteri' yang artinya tidak akan terlalu lama, Netanyahu akan menghadapi hari pembalasan dari rakyat Israel yang sangat marah padanya. Ia kehilangan 50 persen basis suara. Masanya sebagai pemimpin akan segera berakhir," kata Baskin seperti dikutip dari Aljazirah, Jumat (16/2/2024).

Ia mengatakan setelah konflik Gaza menyebar ke seluruh Timur Tengah. Kini waktunya masyarakat internasional untuk mengambil alih pendirian negara Palestina.

"Saya pikir sangat penting veto yang Israel miliki selama 30 tahun pada kenegaraan Palestina perlu segera diambil dari Israel. Konflik ini tumpah keluar perbatasan Palestina, memicu kekhawatiran keamanan kawasan dan globak, dan akan pemilihan presiden yang perlu diperhitungkan," tambah Baskin mengenai pemilihan presiden Amerika Serikat (AS) sekutu terkuat Israel.

“Harus diakui, 139 negara telah mengakui Palestina. Namun negara-negara kaya belum melakukannya, dan inilah saatnya mereka melakukannya,” kata Baskin.

Sebelumnya pengamat politik Israel Gideon Levy mengatakan kesempatan besar bagi masyarakat internasional untuk mengambil alih dan mengakhiri penjajahan ilegal Israel di wilayah Palestina.

"Selama berpuluh-puluh tahun, bahkan sebelum Netanyahu, Israel menolak untuk menyelesaikan masalah Palestina, oleh karena itu sudah waktunya bagi masyarakat internasional untuk mengatakan 'sudah cukup,'" kata Levy.

Ia menambahkan setiap tahun Israel menggelar perang dan menghancurkan Gaza. Kemudian masyarakat internasional yang harus membiayai rehabilitasinya.

"Hal ini menimbulkan risiko bagi seluruh dunia karena segala macam ketegangan lainnya meningkat karena konflik di Gaza. Masyarakat internasional harus mengatakan cukup sudah menyerahkannya kepada Israel. Sudah saatnya komunitas internasional memaksakan sebuah solusi. Jika tidak, hal ini akan terus berlangsung seperti ini selamanya," kata Levy.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement