Senin 05 Feb 2024 19:30 WIB

Petani di Manggarai Barat Diminta Tanam Palawija Hadapi Dampak El Nino

Dampak krisis El Nino di Kabupaten Manggarai Barat mengakibatkan curah hujan rendah.

Ilustrasi. tanaman padi.
Foto: Antara/Nyoman Hendra Wibowo
Ilustrasi. tanaman padi.

REPUBLIKA.CO.ID, LABUAN BAJO -- Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan (TPHP) Kabupaten Manggarai Barat Laurensius Halu meminta petani di daerah itu untuk menanam palawija sebagai pengganti tanaman padi dalam menghadapi potensi dampak kekeringan akibat fenomena El Nino.

 

Baca Juga

"Manfaatkan dengan tanaman lain apakah dengan kacang, jagung atau sayur jangan dipaksakan hanya padi sawah saja. Harus menanam, tidak boleh vakum," katanya saat ditemui di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Senin (5/2/2024).

 

 

Dia mengakui dampak krisis El Nino di Kabupaten Manggarai Barat mengakibatkan curah hujan yang rendah sehingga terjadi pergeseran musim tanam.

 

Dia menjelaskan tanaman palawija atau hortikultura merupakan tanaman yang ramah terhadap kekeringan, sehingga dapat membantu petani yang mengharapkan curah hujan untuk bertani seperti di wilayah Kecamatan Boleng.

 

"Harapan kita ada intensitas curah hujan yang cukup, beda dengan 2021, hujan lebih awal sejak November sehingga di persawahan Terang di Kecamatan Boleng dua kali tanam. Memang fenomena alam di luar batas kemampuan kita, tapi tugas kita bagaimana meyakinkan masyarakat dan melakukan pendampingan, itu tugas pemerintah daerah untuk mengantisipasi dan ambil langkah terbaik dalam situasi saat ini," katanya.

 

Lebih lanjut dia menjelaskan berdasarkan prakiraan cuaca dari BMKG curah hujan tinggi di Kabupaten Manggarai Barat akan terjadi pada Februari 2024.

 

"Kami berharap begitu puncak musim hujan sudah masuk, sudah terjadi penanaman di lapangan sehingga air yang ada bukan untuk olah tanah tapi untuk pertumbuhan tanaman," katanya.

 

Dia juga mengimbau masyarakat untuk melakukan gerakan gotong-royong memperbaiki dan membersihkan saluran air dan mengoptimalkan buka tutup saluran irigasi sehingga semua petani mendapatkan air dari irigasi.

 

"Petani harus biasakan menggunakan air secara efektif dan efisien, tanaman padi membutuhkan air tapi bukan tanaman air yang sepanjang hari harus digenangi air. Sehingga terjadi efisiensi untuk penghematan air. Lalu kami juga perintahkan kepada masyarakat untuk optimalkan alsintan (alat dan mesin pertanian) yang ada," katanya.

sumber : ANTARA
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement