Rabu 31 Jan 2024 12:13 WIB

IAEA Tegaskan Pembuangan Fukushima Sudah Sesuai Standar

Hingga kini Jepang telah membuang 23.400 ton air nuklir.

Ini menunjukkan pembangkit listrik Kashiwazaki-Kariwa di Kashiwazaki, prefektur Niigata, Jepang utara pada bulan April 2021. Regulator keselamatan nuklir Jepang mencabut larangan operasional pada Rabu, 27 Desember 2023, yang dikenakan pada Tokyo Electric Power Company Holdings, juga dikenal sebagai TEPCO, operatornya di belakang pabrik Fukushima yang berakhir dengan bencana, sehingga memungkinkan perusahaan untuk melanjutkan persiapan untuk memulai kembali pabrik Kashiwazaki-Kariwa, pabrik terpisah, setelah penghentian selama 12 tahun.
Foto: Kyodo News Via AP
Ini menunjukkan pembangkit listrik Kashiwazaki-Kariwa di Kashiwazaki, prefektur Niigata, Jepang utara pada bulan April 2021. Regulator keselamatan nuklir Jepang mencabut larangan operasional pada Rabu, 27 Desember 2023, yang dikenakan pada Tokyo Electric Power Company Holdings, juga dikenal sebagai TEPCO, operatornya di belakang pabrik Fukushima yang berakhir dengan bencana, sehingga memungkinkan perusahaan untuk melanjutkan persiapan untuk memulai kembali pabrik Kashiwazaki-Kariwa, pabrik terpisah, setelah penghentian selama 12 tahun.

REPUBLIKA.CO.ID, TOKYO -- Badan Energi Atom Internasional (IAEA) pada Selasa (30/1/2024) menegaskan lagi pendapatnya bahwa pembuangan air radioaktif olahan Jepang dari pembangkit listrik tenaga nuklir Fukushima sudah sesuai dengan standar keamanan internasional.

Pernyataan itu disampaikan dalam laporan utuh pertama badan itu sejak Jepang pertama kali membuang air limbah nuklir itu Agustus tahun lalu. Laporan tersebut didasarkan pada tinjauan sebuah gugus tugas IAEA yang terdiri dari beberapa pejabat badan itu dan ahli independen dari 11 negara termasuk China yang dilakukan Oktober silam.

Baca Juga

China sampai saat ini menerapkan larangan impor terhadap produk laut Jepang. Gugus tugas tersebut sudah meneliti fasilitas dan peralatan pembuangan air limbah, yang diolah dengan sistem pemrosesan cairan yang menghilangkan sebagian besar radionuklida kecuali tritium.

Mereka juga sudah mengadakan pembicaraan dengan para petugas  pembangkit listrik Tokyo Electric Power Company Holdings Inc, dan Otoritas Regulasi Nuklir pemerintah Jepang. Hingga kini Jepang telah membuang 23.400 ton air nuklir sejak Agustus tahun lalu. 

TEPCO berencana  membuang gelombang terakhir air olahan itu untuk tahun fiskal 2023 pada akhir Februari. Standar tersebut menjadi referensi global dalam melindungi masyarakat dan lingkungan dari dampak berbahaya radiasi ionisasi.

Laporan terbaru itu menegaskan kembali kesimpulan dari laporan keselamatan komprehensif badan tersebut yang dikeluarkan Juli tahun lalu sebelum pembuangan limbah dimulai. Pemerintah Jepang melihat pembuangan air limbah yang dihasilkan dari proses pendinginan bahan bakar reaktor yang meleleh bercampur dengan air hujan dan air tanah itu sebagai langkah penting dalam menonaktifkan pembangkit listrik Fukushima Daiichi yang mengalami krisis nuklir akibat bencana gempa bumi dan tsunami 2011.

 

sumber : Antara, kyodo
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement