Ahad 21 Jan 2024 10:58 WIB

Bagaimana Kondisi Ekonomi China pada 2024?

Ekonomi China di bawah performa terbaiknya

Kawasan bisnis Beijing, China (ilustrasi).  Ekonomi China di bawah performa terbaiknya
Foto:

Belanja barang tersebut, antara lain, untuk belanja pakaian, makanan, maupun minyak yang dapat dikonsumsi. Belanja perhiasan, peralatan olahraga, dan hiburan juga tampak meningkat. 

Penjualan ritel daring di China pada 2023 mencapai 15,43 triliun yuan atau naik 11 persen (yoy), sedangkan sektor makanan jadi dan restoran mencapai 5,29 triliun yuan (tumbuh 20,4 persen yoy). 

Sementara General Administration of Customs of China (GACC atau Bea Cukai China) dalam konferensi pers mengatakan nilai ekspor-impor China pada 2023 mencapai 41,76 triliun yuan (sekitar 5,88 triliun dolar AS) atau naik 0,2 persen dibanding tahun 20222 (year on year). 

Rinciannya ekspor sebesar 23,77 triliun yuan atau naik 0,6 persen (yoy) dan impor turun 0,3 persen (yoy) menjadi 17,99 triliun yuan. 

Bea Cukai China mencatat ekspor dan impor dilakukan oleh lebih dari 600 ribu perusahaan, 556 ribu adalah perusahaan swasta yang mencatat 22,36 triliun yuan (53,5 persen) dari total ekspor-impor. 

Adapun BUMN China mencatat ekspor-impor sebesar 6,68 triliun yuan (16 persen), sisanya yaitu 30,2 persen adalah perusahaan asing yang beroperasi di China dengan nilai 12,61 triliun yuan.

Lima komoditas ekspor terbesar adalah produk minyak olahan, telepon seluler, baja, sirkuit terpadu (integrated circuit atau IC), dan suku cadang mobil yang menyumbang 55 persen dari total nilai ekspor.

Sementara, impor didominasi biji-bijian, minyak mentah, gas alam, dan pesawat terbang menyumbang lebih dari separuh total impor.

Juru Bicara sekaligus Direktur Jenderal Departemen Statistik dan Analisis GACC, Lyu Daliang, mengakui pada 2023 pemulihan ekonomi dunia masih lemah, kinerja perdagangan global secara keseluruhan masih lesu dan lemahnya permintaan eksternal itu berdampak langsung pada ekspor China.

"Dilihat dari angkanya, laju pertumbuhan ekspor China lebih rendah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Namun, kita juga harus memperhatikan bahwa ekspor China mencapai titik tertinggi baru, tidak hanya mencapai pertumbuhan volume tetapi juga menjaga stabilitas secara keseluruhan," kata Lyu Daliang dalam konferensi pers.

Lyu, mengutip data WTO, pangsa pasar internasional ekspor China tetap tinggi pada 2023 yaitu sekitar 14 persen.

"Pangsa pasar China tetap stabil pada 2023. Dapat dikatakan, 'kue ekonomi' kami tidak berkurang, dan daya saing kami secara keseluruhan tetap solid," ungkap Lyu.

Lyu juga menyebut ekspor merek-merek China tetap meningkat secara signifikan. Ekspor merek China tumbuh 9,3 persen pada 2023 dan pangsa pasarnya meningkat 1,7 persen. Produk-produk itu diekspor ke lebih dari 200 negara.

Pada 2023, Lyu mencatat ekspor industri manufaktur mencapai 13,47 triliun yuan. Khususnya industri otomotif dan pembuatan kapal.

"Pada saat yang sama, proteksionisme dan unilateralisme juga memberi dampak pada ekspor dan produk kami menghadapi berbagai kesulitan. Namun, jika dilihat dari sudut pandang yang berbeda, berkat dukungan kebijakan, kekuatan industri, dan upaya kolektif berbagai pemangku kepentingan, ekspor China siap untuk semakin memperkuat keunggulan kompetitif mereka. Kami yakin dengan ekspor China," ungkap Lyu.

Rencana 2024

Selanjutnya National Development and Reform Commission (NDRC atau Komisi Pembangunan dan Reformasi Nasional) yang melakukan perencanaan dan manajemen makroekonmi China mengatakan pada 2024 China akan mengembangkan titik pertumbuhan konsumsi baru seperti smart homes, acara-acara olahraga, penggunaan produk dalam negeri, dan barang-barang bergaya China (China-chic).

NDRC menyebut pemerintah akan meningkatkan belanja barang-barang bernilai besar dan memperbaiki faktor pendorong konsumsi, memperluas investasi yang efektif, memberikan dukungan lebih banyak kepada bidang teknologi inti, infrastruktur baru, konservasi energi, dan dekarbonasi.

Upaya lainnya adalah NDRC akan mendorong legislasi undang-undang untuk mendorong pengembangan sektor swasta dan memberikan kesetaraan status antara perusahaan milik negara dan swasta di undang-undang.

Wakil Sekretaris Jenderal NDRC Yuan Da mengatakan NDRC akan bertindak untuk memastikan penerapan kebijakan yang mendukung sektor swasta, mendorong lebih banyak investasi swasta dalam proyek-proyek penting di negara dan mendukung perusahaan swasta dalam melakukan penelitian dan pengembangan di bidang teknologi utama dan inti.

NDRC juga akan melakukan upaya agar suara pemilik perusahaan swasta didengar dan masalah mereka diselesaikan.

Penguatan perusahaan swasta tersebut dilakukan untuk menunjang salah satu fokus ekonomi China yaitu kendaraan energi baru (new energy vechicle atau NEV).

Berdasarkan data Kementerian Perindustrian dan Teknologi Informasi (MIIT), China mengekspor 4,91 juta kendaraan pada 2023. Ekspor itu tumbuh 57,9 persen dibanding 2022. Dari jumlah tersebut ada 1,2 juta NEV yang diekspor atau bertambah 77,6 persen.

Baca juga: 5 Pilihan Doa Ini Bisa Jadi Munajat kepada Allah SWT Perlancar Rezeki

Bila NEV digabungkan dengan baterai litium-ion dan baterai tenaga surya (pemerintah China menyebut ketiganya sebagai new three) maka totalnya melampaui 1,06 triliun yuan. Pemerintah China mencatat momentum ekspor itu mencerminkan pergeseran dari "Made in China" menjadi "Created in China".

Untuk kebijakan investasi, NDRC dan badan lainnya berjanji akan merevisi daftar negatif nasional mengenai investor yang tidak boleh masuk ke China dan menghapus semua batasan masuknya investasi asing di sektor manufaktur.

Investasi juga akan difokuskan pada sektor yang efektif dan potensial seperti teknologi, konservasi energi dan dekarbonisasi.

Pengangguran...

 

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement