Jumat 08 Dec 2023 09:59 WIB

Cadangan Devisa Meningkat, IHSG Dibuka Menguat

IHSG menguat ke level 7.160,29 lanjutkan kenaikan pada penutupan perdagangan kemarin.

Rep: Retno Wulandhari/ Red: Lida Puspaningtyas
Pengunjung mengamati data saham melalui aplikasi IDX Mobile di dekat layar yang menampilkan indeks harga saham gabungan (IHSG) di kantor PT Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta, Kamis (24/8/2023).
Foto: Republika/Thoudy Badai
Pengunjung mengamati data saham melalui aplikasi IDX Mobile di dekat layar yang menampilkan indeks harga saham gabungan (IHSG) di kantor PT Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta, Kamis (24/8/2023).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka di zona hijau pada perdagangan pagi ini. IHSG menguat ke level 7.160,29 melanjutkan kenaikan pada penutupan perdagangan kemarin.

Di Asia, bursa regional bergerak variatif dengan Strait Times menguat 0,79 persen, namun Nikkei anjlok 1,66 persen. Di sisi lain, bursa utama Wall Street kompat membukukan kenaikan semalam.

Baca Juga

"Hari ini IHSG diprediksi bergerak mixed dan melemah terbatas dalam rentang 7.070-7.150," kata Financial Expert Ajaib Sekuritas Ratih Mustikoningsih dalam ulasannya, Jumat (8/12/2023).

Dari dalam negeri, menurut Ratih, sentimen yang mempengaruhi pergerakan IHSG hari ini yakni laporan mengenai cadangan devisa (cadev) Indonesia. Pada November 2023, cadev tercatat sebesar 138,1 miliar dolar AS.

 

Perolehan tersebut meningkat dari periode Oktober 2023 sebesar 133,1 miliar dolar AS. Akselerasi cadev didorong oleh penerbitan sukuk global, penarikan pinjaman luar negeri pemerintah, serta penerimaan pajak dan jasa.

Secara keseluruhan, posisi cadev pada November 2023 setara dengan 6,3 bulan impor atau 6,1 bulan impor dan pembayaran ULN pemerintah. Cadev Indonesia ini masih di atas standar kecukupan internasional sebesar tiga bulan impor.

Dari mancanegara, penjualan ritel di kawasan Eropa pada Oktober 2023 terkoreksi 1,2 persen yoy. Penurunan tersebut lebih baik dibandingkan kontraksi September 2023 yang sebesar 2,9 persen yoy.

Secara historis, kawasan Eropa mencatat kenaikan penjualan ritel tertinggi pada April 2021 sebesar 23,7 persen yoy. Sedangkan posisi terendah pada April 2020 yang terkoreksi sebesar 18,90 persen yoy.

Dari Asia, China mencatat surplus neraca dagang pada November 2023 sebesar 68,39 miliar dolar AS. Angka tersebut naik dari surplus bulan sebelumnya sebesar 66,49 miliar dolar AS

Impor pada November 2023 terkoreksi 0,6 persen yoy, setelah pada bulan sebelumnya tumbuh tiga persen yoy. "Pertumbuhan impor yang melambat mencerminkan terbatasnya aktivitas ekonomi di Cina yang merupakan mitra dagang Indonesia," kata Ratih.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement