Senin 27 Nov 2023 19:44 WIB

Antam Kaji Penggunaan Hidrogen Jadi Bahan Bakar di Smelter

Saat ini perusahaan menggunakan biomassa untuk teknologi co-firing di PLTU.

Rep: Intan Pratiwi/ Red: Ahmad Fikri Noor
Foto udara aktivitas pemurnian nikel di areal pabrik smelter milik PT Antam di Kecamatan Pomalaa, Kolaka, Sulawesi Tenggara, Sabtu (17/12/2022).
Foto: ANTARA FOTO/Jojon
Foto udara aktivitas pemurnian nikel di areal pabrik smelter milik PT Antam di Kecamatan Pomalaa, Kolaka, Sulawesi Tenggara, Sabtu (17/12/2022).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- PT Aneka Tambang Tbk (Antam) mengkaji penggunaan hidrogen sebagai bahan bakar pengganti BBM di pabrik pemurniannya. Untuk sementara, saat ini perusahaan menggunakan biomassa untuk teknologi co-firing di PLTU yang menyuplai listrik di smelter Pomala milik Antam.

Direktur Pengembangan Usaha Antam, I Dewa Wirantaya menjelaskan, upaya peralihan energi ini untuk mendukung agenda transisi energi pemerintah. Kata Dewa, target perusahaan pada 2026 sudah meninggalkan batu bara sebagai bahan bakar utama.

Baca Juga

"Saat ini kami sedang mengkaji penggunaan biomassa pada smelter kami yang masih menggunakan MFO dan batu bara. Kami juga melakukan kajian penggunaan hidrogen sebagai bahan bakar alternatif," kata Dewa dalam RDP di Komisi VII DPR, Senin (27/11/2023).

Untuk smelter di Kolaka, kata Dewa, saat ini Antam sedang bekerja sama dengan PLN untuk penyediaan listrik dari sumber energi bersih. Diharapkan, pada tahun depan, PLN bisa memberikan kepastian pasokan listrik bersih ke Antam.

 

Dewa juga mengatakan saat ini Antam telah mengoperasikan PLTS di beberapa wilayah area tambang. "Kami juga menggunakan gas sebagai energi di peralatan proses di tiga fasilitas pabrik kami," tambah Dewa.

Saat ini, perusahaan juga telah menggunakan biodiesel untuk bahan bakar alat berat pertambangan. Hingga Oktober 2023, perusahaan telah mengurangi emisi gas rumah kaca hingga 75.450 ton CO2.

Di dalam materi paparannya, pada rencana 2030-2060 ANTM merencanakan sudah memiliki Pembangkit Listrik Tenaga Gas Uap (PLTGU) dilengkapi dengan Carbon Capture Storage (CCS) di Feni Haltim (FHT), PT Indonesia Chemical Alumina (ICA), dan PT Borneo Alumina Indonesia (BAI). 

Kemudian, penggunaan listrik berbasis energi baru terbarukan di Unit Bisnis Pertambangan Nikel (UBPN) Kolaka, Unit Bisnis Pertambangan Bauksit (UBPB) Kalimantan Barat, dan Mempawah. 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement