Kamis 23 Nov 2023 16:40 WIB

Erick Bawa Australia Masuk Ekosistem Kendaraan Listrik Indonesia

Erick menyampaikan, kolaborasi ini buah dari kepercayaan internasional.

Rep: Muhammad Nursyamsi/ Red: Ahmad Fikri Noor
Menko Marves Ad Interim Erick Thohir dan Menteri Industri dan Sains Australia Edham Nurredin Ed Husic menandatangani nota kesepahaman di kantor Kementerian BUMN, Jakarta, Kamis (23/11/2023).
Foto: Republika/ Muhammad Nursyamsi
Menko Marves Ad Interim Erick Thohir dan Menteri Industri dan Sains Australia Edham Nurredin Ed Husic menandatangani nota kesepahaman di kantor Kementerian BUMN, Jakarta, Kamis (23/11/2023).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Marves) Ad Interim Erick Thohir dan Menteri Industri dan Sains Australia Edham Nurredin Ed Husic menandatangani nota kesepahaman atau MoU pembentukan mekanisme bilateral kolaborasi memajukan kendaraan listrik (EV) Indonesia-Australia di kantor Kementerian BUMN, Jakarta, Kamis (23/11/2023).

Erick menyampaikan, kolaborasi ini buah dari kepercayaan internasional terhadap potensi pengembangan industri kendaraan listrik Indonesia. "Ini sebuah momentum besar di mana kalau kita lihat global economy shifting sekarang banyak ke daerah Asia. Dengan situasi global yang tidak menentu hari ini benar-benar shifting ke Asia," ujar Erick. 

Baca Juga

Erick mengatakan Indonesia dan Australia merupakan negara tetangga yang memiliki hubungan erat, baik dalam pemerintah ke pemerintah, bisnis ke bisnis, maupun antarmasyarakat kedua negara. Hubungan baik tersebut menjadi pendorong bagi kedua negara memperkuat kerja sama dalam meningkatkan pengembangan industri kendaraan listrik. 

"Ini yang kebetulan kedua negara punya sumber daya alam yang bisa disinergikan," ucap Erick. 

 

Erick menyebut kolaborasi ini sejalan dengan komitmen pemerintah mendorong akselerasi kendaraan listrik dalam transisi energi. Dengan jumlah penduduk yang diperkirakan menyentuh 315 juta, Erick mengatakan kendaraan listrik dapat menjadi solusi atas sejumlah persoalan lingkungan maupun menjaga ketahanan energi nasional. 

"Pemerintah sudah mengambil posisi, kita harus terus mendorong pengembangan EV jadi tidak hanya Indonesia sebagai negara memproduksikan EV, tapi juga kita punya market yang besar," lanjut Erick. 

Erick optimistis pengembangan industri kendaraan listrik akan memiliki dampak besar bagi Indonesia, salah satunya terhadap pertumbuhan ekonomi. Erick menilai hal ini juga akan berkontribusi dalam mendorong pembukaan lapangan kerja bagi masyarakat. 

"Insya Allah dengan MoU, ini saya janjikan mungkin dalam satu bulan ke depan kita bisa punya peta jalan yang bisa kita implementasikan antara kedua negara, sehingga MoU ini bukan hanya seremonial, tetapi sesuatu yang konkret untuk kemajuan persahabatan kedua negara," kata Erick.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement