Rabu 15 Nov 2023 09:22 WIB

Harga Rumah di Bawah Rp 2 Miliar Catatkan Kenaikan Tertinggi Seusai Pandemi

Bank BTN sebut kondisi ini menjadi momentum positif penunjang kinerja perseroan. 

Direktur Consumer Bank BTN Hirwandi Gafar mengatakan kenaikan harga rumah menjadi menjadi refleksi peningkatan permintaan rumah di masyarakat. (ilustrasi)
Foto: Dok Republika
Direktur Consumer Bank BTN Hirwandi Gafar mengatakan kenaikan harga rumah menjadi menjadi refleksi peningkatan permintaan rumah di masyarakat. (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Housing Finance Center, lembaga riset milik PT Bank Tabungan Negara (BTN) (Persero) Tbk. merekam per triwulan III/2023, harga rumah secara nasional mencatatkan kenaikan tertinggi sejak pandemi. Rumah di bawah Rp 2 miliar menjadi penyumbang terbesar kenaikan tersebut.

Dalam riset yang dirilis Housing Finance Center (HFC) menyebutkan indeks harga rumah (House Price Index/HPI) untuk triwulan III/2023 mencapai sebesar 211,9 atau mengalami pertumbuhan tertinggi setelah pandemi sebesar 8,7 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Kenaikan didorong oleh rumah dengan ukuran besar atau Tipe 70 dengan harga berkisar Rp 500 juta-Rp 1 miliar yang mencatatkan kenaikan sebesar 12 persen yoy pada triwulan III/2023.

Baca Juga

Direktur Consumer Bank BTN Hirwandi Gafar mengatakan kenaikan harga rumah tersebut menjadi menjadi refleksi peningkatan permintaan rumah di masyarakat. “Kami menilai kondisi ini akan bertahan hingga akhir tahun sejalan dengan insentif PPN DPT dari Pemerintah untuk rumah di bawah Rp 2 miliar. Kondisi ini tentunya menjadi momentum pertumbuhan positif bagi Bank BTN,” kata Hirwandi di Jakarta, Rabu (15/11/2023). 

Lebih lanjut, riset HFC BTN juga menyebutkan kenaikan harga rumah tersebut juga disumbang oleh rumah ukuran kecil atau tipe 36 dengan harga di bawah Rp 350 juta. HFC mencatat harga rumah tipe 36 tumbuh 8,4 persen yoy. 

Sementara itu, berdasarkan data Bank BTN, komposisi penyaluran KPR untuk harga di bawah Rp 2 miliar paling banyak di Provinsi Jawa Barat atau sekitar 44 persen. Kemudian, penyaluran KPR terbanyak disusul Provinsi Jawa Timur, Banten, dan Jawa Tengah. Untuk luar Pulau Jawa, pada pulau Sumatera, Provinsi Jambi, Provinsi Sumatera Selatan dan Sumatera Utara menduduki posisi tertinggi untuk penyaluran KPR di Bank BTN.

“Untuk provinsi dengan pertumbuhan tertinggi terjadi di luar Pulau Jawa yakni Kalimantan Tengah, Sumatera Barat, Kepulauan Riau, Kalimantan Utara, dan Kalimantan Timur,” ujar Hirwandi, dalam siaran persnya. 

Hirwandi menambahkan, selama delapan bulan pertama tahun ini, Bank BTN juga telah menyalurkan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) baik Subsidi maupun Non-Subsidi sebesar Rp 27,5 triliun atau tumbuh 17,9 persen yoy. Kenaikan tersebut tercatat masih berada di atas rata-rata industri. Berdasarkan data Bank Indonesia, KPR secara nasional tumbuh 12,3 persen yoy di September 2023, lebih tinggi dibandingkan kuartal sebelumnya atau per Juni 2023 sebesar 10.6 persen yoy. 

Adapun, Kresna Hutabarat, analis Mandiri Sekuritas dalam risetnya mempertahankan rekomendasi beli untuk Bank BTN dengan target price Rp 1.800. Kresna memproyeksikan laba bersih BBTN di tahun 2023 dapat menyentuh Rp 3,37 triliun atau tumbuh 10,7% dari periode tahun sebelumnya. Dengan asumsi tersebut, ROAE diperkirakan dapat mencapai 12% di tahun ini.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement