Kamis 09 Nov 2023 11:05 WIB

Pupuk Indonesia Perpanjang Kompetisi Riset dan Inovasi Pertanian

Kompetisi riset dan inovasi pertanian diperpanjang hingga 15 November.

PT Pupuk Indonesia (Persero) memperpanjang periode pengumpulan makalah kompetisi riset dan inovasi pertanian Pupuk Indonesia Fertinnovation Challenge (PIFC) 2023.
Foto: Dok. Pupuk Indonesia
PT Pupuk Indonesia (Persero) memperpanjang periode pengumpulan makalah kompetisi riset dan inovasi pertanian Pupuk Indonesia Fertinnovation Challenge (PIFC) 2023.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- PT Pupuk Indonesia (Persero) memperpanjang periode pengumpulan makalah kompetisi riset dan inovasi pertanian 'Pupuk Indonesia Fertinnovation Challenge (PIFC) 2023'. Kompetisi ini merupakan upaya Pupuk Indonesia untuk mendorong lahirnya berbagai teknologi pertanian yang lebih efisien, presisi, dan ramah lingkungan. 

“Masih ada waktu bagi para mahasiswa dan non mahasiswa yang ingin berkontribusi melalui ide kreatif dan inovatif untuk mendukung kemajuan teknologi di bidang produksi pupuk dan pertanian nasional. Kompetisi ini kami perpanjang hingga 15 November 2023,” ujar SVP Sekretaris Perusahaan Pupuk Indonesia Wijaya Laksana, dalam keterangan tertulis, Kamis (9/11/2023).

Baca Juga

Hingga November 2023, kompetisi ini telah menjaring puluhan entry yang masuk. Wijaya berharap generasi milenial dan pelaku industri pertanian lainnya dapat berpartisipasi dalam program ini. 

Pupuk Indonesia telah menyiapkan total hadiah sebesar Rp380 juta. Selain itu, karya terbaik berpotensi mendapatkan incubation fund hingga miliaran rupiah.

 

Dalam kompetisi ini, terdapat empat topik yang dilombakan. Pertama, peningkatan efisiensi dalam penggunaan pupuk (enhanced efficiency fertilizer). Untuk topik ini, materi yang dilombakan berupa desain/prototype produk pupuk sebagai nutrisi tanaman yang memiliki karakteristik high NUE (Nutrient Use Efficiency) dan lebih ramah lingkungan.

Topik kedua adalah industri pupuk berkelanjutan (sustainable fertilizer industry), dimana materi yang dilombakan yaitu desain/prototype teknologi produksi pupuk dan amonia yang rendah emisi dan lebih ramah lingkungan. Berikutnya, topik yang diangkat adalah teknologi pertanian presisi (precision agriculture technology) yang akan melombakan desain/prototype teknologi pertanian presisi untuk mendukung digitalisasi pertanian.

Topik terakhir adalah agri challange. Materi lomba dalam topik ini berupa konsep bisnis atau kegiatan yang mendukung implementasi ESG (Enviromental, Social, and Governance) di bidang pertanian. 

"Tema yang kami pilih seluruhnya merupakan isu yang saat ini sedang menjadi tuntutan global. Mulai dari pengembangan teknologi pertanian yang lebih efisien, presisi dan mengedepankan aspek lingkungan," kata Wijaya.

Ia pun menambahkan, ide kreatif tersebut nantinya diharapkan dapat menjadi solusi tantangan yang dihadapi sektor pertanian. Mulai dari fenomena El Nino dan La Nina yang berdampak pada perubahan iklim, kondisi demografi petani Indonesia yang didominasi usia 45 tahun ke atas, hingga tidak stabilnya rantai pasok global akibat konflik Rusia-Ukraina.

"Oleh karena itu, melalui kompetisi ini kami berharap dapat melahirkan gagasan-gagasan segar untuk kemudian dikembangkan secara lebih komprehensif agar dapat menjawab tantangan-tantangan tersebut," ujar Wijaya.

Lebih lanjut Wijaya menjelaskan bahwa kompetisi ini merupakan yang kedua kalinya digelar oleh Pupuk Indonesia. Kompetisi ini sendiri menjadi salah satu program Pupuk Indonesia yang saat ini tengah memperkuat kemampuan riset dan inovasi. Riset dan inovasi adalah salah satu pilar strategis dalam program transformasi bisnis perusahaan.

Terkait peserta, ajang ini terbuka bagi mahasiswa yang terafiliasi dengan kampus nasional maupun global. Selain mahasiswa, kompetisi ini juga dapat diikuti oleh non-mahasiswa yang terafiliasi dengan kelembagaan atau perusahaan seperti start up hingga badan riset.

Kompetisi ini bisa diikuti oleh individu atau tim (2-4 orang), dengan materi lomba belum pernah didaftarkan dalam kompetisi inovasi, memiliki relevansi dengan proses bisnis Pupuk Indonesia, level maturitas inovasi minimal sudah terkonfirmasi skala bench/pilot; serta memiliki kajian teknis & keekonomian serta MVP menjadi nilai tambah. 

Untuk penilaiannya akan dilakukan oleh juri internal maupun eksternal perusahaan, seperti ahli dari perguruan tinggi, hingga stakeholder terkait yang berkompeten di bidangnya. 

"Selain berkompetisi, kegiatan ini juga menjadi ajang kolaborasi antara Pupuk Indonesia dengan dunia akademik yang harapannya dapat membawa manfaat bagi ketahanan pangan, masyarakat, dan lingkungan masa depan," kata Wijaya.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement